Ulat pun Jadi Kupu-Kupu

Setelah kenyang makan, sang ulat pun lelah, dia tertidur panjang dan membuka mata, sepertinya ada yang berbeda dengan dirinya. Ah… iya tubuhnya menjadi ramping dan oh apa ini? Waaah sayap indah! Dengan kegirangan dia menari dan tiba-tiba dia terbang. Terbang berkeliling negeri, meskipun sayapnya tak bisa membawanya ke seluruh jagat raya ,tapi petualangan sang kupu-kupu dimulai. Kebingungan tak tahu arah, tapi memberikan keberanian untuk mengepak sayapnya…tak terbayangkan sebelumnya, menjadi kupu-kupu begitu cantik, begitu anggun, begitu bersemangat. Semoga sang sayap tidak patah, sehingga bisa terbang tinggi, setinggi burung elang menerjang badai untuk sampai ke negeri seberang.

“Ah aku akhirnya traveling beneran!” Itulah ucapan pertama saya, dan sewaktu saya informasikan ke grup Travel Troopers langsung mendapat tanggapan dari Dini, “akhirnya cicik traveling beneran!”
Seperti kata saya sebelum-sebelumnya, kalau saya ini manusia spesies aneh yang hidup di dunia ini. Saya bergabung dengan grup Travel Troopers tapi saya belum pernah traveling. Pernah pergi ke beberapa tempat, tapi saya tidak pernah pergi sendirian atau dalam rangka traveling. Entah kenapa saya mengatakan demikian, tapi menurut saya kalau traveling ya pakai duit sendiri, kalau pun sama teman ya setidaknya kita ikut andil.

Berawal dari teknisi kantor yang harus maintenance alat di Sorong, saya langsung berteriak heboh, karena sebelum-sebelumnya saya ada rencana ingin cuti kalau kebetulan teman ada yang ke Sorong. Kebetulan ada owner di kantor sedang makan siang. Jangan bayangkan suasana kantor kaya di film-film ya, misalnya kami para karyawan yang berperilaku kaku dan tanpa ekspresi, soalnya disini lumayan santai, karyawan agak kurang ajar sama bos (khusus saya sih, sori bos, bukan tidak sopan, tapi apa boleh buat, kalau saya berubah anggun yang ada anda akan kebingungan…hahaha!).

Dialog kekurangajaran saya pun dimulai. Oh sebelum kebingungan pembaca merajalela, biar saya jelaskan dulu, saya mempunyai dua bos, satu adalah owner yang sering saya sebut ‘bos satu’ dan satu lagi adalah derektur yang sering saya sebut ‘bos dua’. Oke lanjut ke obrolan sarap saya.

“Pak aku mau cuti, ikut Riski ke Sorong ya.”  Dengan dijawab… “Hmm..sak karepmu.” yang artinya… Hmm terserah. Yes! Satu bos lolos, kenapa hanya seperti itu tanggapannya dan saya langsung menyimpulkan lolos. Saya cukup mengenal bos saya ini, sudah tiga belas tahun saya ikut bersamanya. Tinggal bos kedua, kebetulan bos dua masuk setelah makan siang, tanpa menyia-nyiakan waktu dan kesempatan saya langsung bilang, “Pak… saya Februari mau cuti, ikut ke Sorong, mungkin bisa menyeberang ke Raja Ampat.”  Bos dua gelagapan pastinya, kaget,tiba tiba saya mengajukan cuti… tapi saya ngomongnya dengan semangat dan di depan owner, ya bos dua langsung menyetujui. Akhirnya urusan cuti kelar, meskipun belum tahu mau berangkat tanggal berapa.

Tapi beberapa hari kemudian tiba-tiba owner berkata, “kamu tahu enggak ke Raja Ampat itu biayanya berapa? Ongkosnya berapa? Wes kamu pikirkan? Itu penginapannya saja berjuta-juta lho.”
Saya takut dong, kalau cuti dibatalin, jadi saya langsung jawab, “tahu kok, katanya enggak mahal-mahal amat kok. Kenapa sih, aku kan enggak pernah cuti? Pokoknya aku mau cuti, nek enggak boleh cuti aku ya ngambek!”  *drama* Sebenarnya sebelum mengajukan cuti bulan Februari, saya juga sudah mengajukan cuti untuk bulan Juni untuk ke Makassar,  gabung Dini ke Toraja dan sudah di-acc, bahkan sudah sempat cari tiket.

“Lho ndak apa-apa kamu mau pergi, tapi nanti dipikir dibayarin kantor sama teman-teman, lho.”

“Ah mereka tahu kok, kalau saya bayar sendiri,” jawab saya rada senewen, semangat saya hampir padam karena larangan yang akan diberikan. Tapi kan saya cuma mau nebeng hotel.

Tidak sampai disitu drama cutipun berlanjut. Beberapa hari sebelum tanggal keberangkatan yang akhirnya sudah saya dapatkan, tiba-tiba bos dua memberikan aturan baru, cuti harus tertulis dan kalau bulan ini cuti bulan depan tidak boleh cuti. Buset aturan dari mana ini?! Kenapa momennya pas sekali, di saat saya akan mengajukan cuti lagi di bulan Maret. Hmm…Banyak hal yang diributkan, baiklah bukankah kita mendapatkan cuti selama 12 hari dalam setahun? Dan kalau pun libur di bulan Desember itu karena kebijaksanaan kantor? Apakah kalau saya tidak mengambil cuti saya akan mendapatkan uang cuti? Tidak kan? Dan kalau saya mengambil cuti akankah di bulan Desember saya harus kerja? Tidak juga kan? Empat tahun pernahkah saya mengambil cuti lebih dari 5 hari tiap tahunnya? Tentu tidak kan?

Ah sudahlah, masalah cuti membuat saya hampir membatalkan liburan perdana saya, sempat membuat saya meneteskan air mata, dan pikiran negatif saya kepada bos dua muncul lagi. Kenapa dan kenapa…banyak pertanyaan yang tidak mungkin terjawab. Saya langsung memberi kabar ke Jakarta, bukan untuk mengadu, catat bukan untuk mengadu, hanya saya merasa gamang dan merasa lelah dengan semua kejadian di Manado. Saya menanyakan kebijakan baru yang akan dibuat, dan akhirnya saya lega, sangat lega meskipun ketakutan dan rasa tertekan itu tetap ada.

Ah  kisah awal mulanya sudah kelamaan, bosen kan? Iya kan? Ya sudah saya ceritain pengalaman pertama saya traveling deh, pertama kali traveling beneran nih. Tapi sepertinya belum bisa dibilang traveling, mungkin hanya bisa dibilang, ini kisah awal saya melebarkan zona nyaman saya.

***

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, sempat bbm Dini bilang kalau saya deg-degan dan bertanya panik, apa sih yang biasa dia lakukan kalau mau jalan? Untunglah, dia membantu menenangkan (enggak banyak-banyak kata lebay, tapi karena saya sudah lumayan tahu karakter dia jadi saya mulai tenang). Bbm kak Oleq manja-manjaan (jangan salah paham dan mengartikan kata manja-manja, saya mengklaim Oleq-member Travel Troopers- untuk jadi kakak saya, yang awalnya hanya ingin ngerjain dia, tapi keterusan sampai sekarang. Saya suka menjadi adik imyutnya- kalau dibilang tidak waras kami berdua memang tidak normal, lah saya sama dia umurnya tua saya) .

Semalaman saya tidak bisa tidur. Selain kebiasaan jelek setiap akan bepergian, ada satu masalah lain, saya menghabiskan membaca novel baru mbak Alea, semalaman tidak tidur, tidak packing, jadinya pukul 3 pagi  saya kelimpungan.

Pukul  04.45 WITA saya dan teman dijemput. Siaaaal… Ban mobil kempes, astaganagaaa! Akhrinya menggunakan mobil Inova bos. Bukan hanya sampai di situ, lah… Itu sampai bandara barang dibongkar, cairan hampir tidak diijinkan, saya berpikir panik, apakah saya harus membatalkan perjalanan pertama saya? Berpikir ini adalah pertanda saya harus menyerah,tapi saya ingat pesan ibu bos saya, kalau saya harus bisa menghadapi segala situasi, dan pengalaman saya memang membantu untuk mengambil keputusan. Saya membujuk petugas bandara kalau ini barang untuk rumah sakit, dan menunjukan faktur serta mengatakan kalau cairan ini hanya sabun. Yah…akhirnya lolos meskipun harus dibungkus plastik.

Sesampainya di Sorong saya sadar, powerbank ketinggalan, obat sakit kepala ketinggalan, bedak dan lipstik ketinggalan juga (soal kedua barang terakir sih saya maklum) ah lagi-lagi kecerobohan saya menempel tak mau lepas. Saya langsung ke balai pengobatan Talitakumi untuk bertemu bagian keuangan, ada beberapa pekerjaan yang harus saya klarifikasi. Tak terasa waktu sudah menunjukakan angka 12, kami buru-buru cari makan, karena pukul 2 saya berencana menyeberang ke Raja Ampat.

 Naik kapal dari Sorong saya mengeluarkan uang Rp 150 .000. Tidak mahal menurut saya, meskipun dilihat di google hanya Rp 120.000. Saya mendapat kamar yang nyaman, sebuah sofa dan sepanjang perjalanan saya tertidur, takut mabuk,tapi ternyata saya tidak pusing.

Selamat datang di Kabupaten Raja Ampat

Selamat datang di Kabupaten Raja Ampat

Wauw! Saya berhasil menyeberang dan sampai pelabuhan. Sesampai di pelabuhan saya menuju hotel Wasai Indah yang sebelumnya sudah diberitahu pak Bram yang menjemput saya di Sorong tadi. Ngojek Rp 20.000 saja. “Pak kalau Raja Ampat itu jauh ya pak?”  “Ini Raja Ampat mbak?”  “Hah? Masa sih?”  Oh ternyata benar, ini kabupaen.

“Maksud pertanyaan saya yang ada di foto-foto itu pak.”

“Oh kalau itu jauh mbak, sewa kapal 10 jutaan”

“Buset, mahalnya!”
Hotel Waisai Indah, bangunannya sih sepertinya bukan baru. Saya menanyakan sewa kamar, deg – degan lagi, seumur hidup saya tidak pernah memutuskan mau menginap di mana, meskipun di pekerjaan itu menjadi tugas saya mencarikan kamar hotel buat tamu.

“Ada kamar kosong, mbak?” Dijawab dengan ramah, “ada mbak,mau yang berapa?”

“Berapaan sih mbak?” Mata saya langsung menelusuri angka-angka itu, “yang Rp 250.000 kamar mandi di luar mbak.”

Hah di luar? “Kalau yang 300 mbak?”

“Ini saja mbak dilihat dulu kamarnya baru diputuskan pilih yang mana.” Saya langsung mengangguk.

“Ini kamar yang 300 mbak,” tunjuk petugas hotel.

“Wah lumayan gede ranjangnya ada AC juga,” ujar saya, lalu saya membuka kamar mandinya, “ah bak dan WC jongkok?”  kata saya dan menyadari dinding kamarnya dari kayu. Aduh…Saya sendirian, penakut sih.

“Kalau kamar yang satunya mas?”

“Sebelah sini mbak.” Saya melihat bangunan terpisah lagi, seperi rumah hanya ini berupa kamar. Kamarnya tidak banyak perbedaan hanya saja kamar mandi WC duduk dan shower, itu saja sih.

“Ya sudah saya ambil yang ini deh mas.”

Penginapan saya di Raja Ampat

Penginapan saya di Raja Ampat

“Mbak kalau di sini ke mana ya mbak jalan-jalannya?” Saya bertanya ke mbak resepsionis lagi. “Waibo, tapi nggak bisa sekarang, harus besok.”

“Ke sana naik apa mbak? Tadi ojeknya mau jemput sih, minta Rp 100 000.”

“Iya mbak pake ojek, tapi kemahalan deh kalau Rp 100.000, coba mbak tawar saja.” Mas resepsionis ikut menimpali.

“Lha kalau jam segini ke mana dong mbak?”

“Oh ke pantai saja mbak, deket kok, ini lurus saja sampai.”

Saya berjalan di pantai, ah entahlah ini pantai atau bukan sih, saya tidak melihat pasirnya. Berkenalan dengan dua anak baru gede yang malah berjanji akan mengantarkan ke Waibo besok pagi dan malamnya janjian mengantar makan papeda, makanan khas Papua. Ternyata kedua abg itu tidak berbohong, mereka menjemput saya dan mengajak ke pantai (yang tadi sore) membuat kaki saya terkilir. Dila dan Alul berjanji besok pagi-pagi akan menjemput saya, tapi rencana bolos tidak bisa. Dila ada ulangan dan jam sepuluh baru bisa keluar kelas.

Makan Papeda!

Makan Papeda!

Kesokan paginya kamar saya diketuk, ternyata bapak ojek menjemput ingin mengantarkan saya, disepakati Rp 100.000 harus mengantarkan saya ke beberapa tempat. Tujuan utama di Waibo, terkenal dengan nama Jembatan Apung, bisa melihat ikan-ikan yang cantik. Karena siang sangat terik saya tidak bisa begitu menikmati ikan-ikan yang memang sangat cantik, hanya bertahan lima menit saya mengajak pak ojek beranjak ketempat lain. Pemandangan sungguh indah…mata saya disuguhi pohon-pohon hijau dan saya bisa melihat burung terbang serta suara burung yang nyaring, entah itu burung apa. Saya menuju ke pantai lagi, dan saya sungguh-sungguh lupa ini apa namanya, yang jelas asri banget. Di sana saya ngobrol dengan bapak-bapak yang menawarkan jasanya untuk melihat pertunjukan burung dan panorama, hanya saja hanya bisa pagi dan sore. Pukul 1.30 harus sudah sampai pelabuhan, kapal saya akan menyeberang kembali ke Sorong. Kali ini saya membeli tiket seharga 200.000, lebih mahal, menurut bapak petugasnya kapalnya lebih besar.

Ikan-ikan di bawah Jembatan Apung

Ikan-ikan di bawah Jembatan Apung

Ada insiden lagi. Agen travel tempat saya membeli tiket mengabari kalau Merpati besok tidak terbang dan tiket diganti hari rabu tanggal 27. Kelimpungan tidak jelas, bos sedang meributkan soal cuti, mau tidak mau saya harus kembali hari sabtu atau minggu. Sial tiket untuk sabtu dan minggu harganya hampir tiga kali lipat! Kalau Merpati Rp 771.000, Lion Rp1.846 000. Duh saya hitung cepat, kalaupun pulang hari minggu harga juga sama, ya sudah saya lebih memilih sabtu saja.

Sesampai di Sorong hari sudah sore, setelah istirahat di hotel saya berjalan di sepanjang tembok Berlin. Ah sudah gelap, hanya sepanjang jalan dipenuhi para penjual makanan. Setelah beli roti abon gulung saya melanjutkan, pastinya makan…saya memang berencana makan kepiting yang menurut saya sangat murah, satu ekor hanya seharga Rp 55.000. Setelah kenyang, pastinya kenyang…saya menghabiskan 1 ekor kepiting dan ikan bakar, saya berjalan dan ah ada pasar malam. Serius seumur hidup saya ini, belum pernah sekalipun saya melihat yang namanya pasar malam.

Makan kepiting murah dan enak, yumm!

Makan kepiting murah dan enak, yumm!

Tak menyia-nyiakan kesempatan saya langsung melihat-lihat, penasaran dengan permainan lempar koin dan gelang,bola. Saya tahu ini seperti judi, tapi kapan lagi saya bisa ke pasar malam? Saya langsung menyiapkan uang 50.000 untuk mencoba beberapa permainan. Puas meskipun hadiahnya tidaklah memuaskan, saya mendapat 4 rinso, obat nyamuk bakar, dan biskuat. Ah selama permainan saya melupakan umur, saya merasa menjadi anak-anak yang haus akan kesenangan, bahagia merasuk di perasaan saya.

Pukul 04.30 WIT saya meninggalkan hotel dan harus mencari sopir taxi lain, karena sopir yang sudah saya sewa masih di jalan dan saya harus menunggu 15 menit lagi, tapi saya tidak mau dan langsung berangkat ke bandara. Sudah hampir pukul 05.30… untunglah hotel dan bandara tidaklah jauh. Penerbangan memang tidak langsung ke Manado, kami singgah ke bandara di Ambon dan Makasar. Saya sempat berdoa semoga pesawatnya delay, karena saya ingin bermain-main ke bandara lain, tapi memang doa yang tidak baik selalu tidak didengar, kan? Pesawat lancar malah saya sempat kejar-kejaran dengan pesawat (saya lari-lari, padahal pesawatnya ya diam manis di bandara). Akhirnya perjalanan saya berakir, saya sampai bandara di Manado, tapi ada yang kosong di hati saya. Entah apa, saya tidak tahu…rasanya ada yang menarik saya jauh, hingga saya berujar, saya akan jalan-jalan lagi secepatnya, saya ingin merasakan kebahagiaan di saat saya tidak mengingat pekerjaan.

Terimakasih buat teman teman grup Travel Troopers… Ojie yang ngomelin suruh menikmati perjalanan, mas Yudo yang kirim link artikel (sangat membantu), kakak Oleq yang meskipun nyebelin tapi membuat saya merasa punya kakak beneran dan tidak sendirian. Oh dua member Travel Troopers yang wajib dapat ucapan terima kasih lebih, mas Yudo dan Dini, terima kasih kaos Travel Troopers dan tas Rei membuat saya lebih  pede, berani melangkah dan berjalan sendirian. Saya tahu ini belum bisa dinyatakan traveling, tapi saya sungguh menikmati perjalanan ini. Perjalanan di mana saya harus menyadari, dunia benar benar tidak selebar daun kelor Ai, dan melangkah melewati pintu. Dunia memang lebih indah Ai, daripada hanya mengintip lewat jendela dunia.

Aini-R4_2

Tentang penulis …

Aini Wk – seorang wanita biasa, yang hobi banget baca novel dan nimbun novel. Selain itu suka ngayal gila dengan menjadikan aktor Korea pacarnya. Setelah putus dari Bae Yong Jun belum bisa move on lagi. Hanya bisa mengagumi beberapa pria seperti T.O.P dan Kim Jong Kook. Mulai hobi travelling dan cita”nya kepingin bisa ke Korea,Cina,Jepang,tapi terkendala paspor.

Cuap-cuapku tiap hari bisa dibaca di akun twitter: @baelovesee dan tulisan-tulisanku lainnya baca di blog Wo Aini Chiayo yaa .. ^^