Rayuan Lautan Pasir

Sudah sekitar 7 tahun lamanya aku tidak ke Bromo. Kangen sih, kangen naik motor di lautan pasir Bromo. Bersusah payah mengendalikan motor yang selalu oleng karna memang medannya pasir, ban motor jadinya amblas! Kampung halamanku di Malang yang berdekatan dengan Bromo membuatku lebih mudah melakukan perjalanan dengan motor. Soal stamina tentunya, stamina di lautan pasir.

Meskipun begitu, aku memulai tulisan ini dengan rasa menyesal. Iya, menyesal karena kesulitan yang kami alami di perjalanan pulang dari Bromo.

Mulailah aku merayu teman-teman ku dengan rasa kangenku akan medan lautan pasir. Kutambahi dengan penyamaran tujuan utama ke air terjun Madakaripura di Probolinggo. Karena memang bisa menuju Madakaripura lewat jalur Tumpang – Ngadas – Lautan Pasir Bromo – Cemoro Lawang – Ngadisari – Sukapura – Madakaripura.

Cerita-cerita penuh rayuan ku berhasil membius 3 teman ku. Cewek semua! Awalnya sih ada satu lagi temen cowok dengan istrinya yang mau ikut, tapi akhirnya batal.

643877_

Anik, Uci, Ninik

Pikiranku sih sudah waswas sebelum memulai perjalanan Bromo – Madakaripura. Ya karena pesertanya cewek semua. Bermotor di lautan pasir sangat menguras tenaga, apalagi bagi pemula, terlebih lagi bagi cewek. Bikin gak nyenyak tidur di malam sebelum perjalanan.

6 September 2012, sekitar jam 6 pagi, aku bersama 3 jagoan, Anik, Uci, dan Ninik, memulai perjalanan kami dengan 2 motor. Aku membonceng Uci, dan Anik membonceng Ninik.

Udara yang masih dingin, berkabut tipis, segar menerpa wajah di sepanjang jalan. Rute jalan yang sangat mudah dari Turen — tempat kami start — hanya lurus saja ke utara tanpa belok ke kiri atau kanan di setiap persimpangan, menuju Wates – Tumpang. Setiba di perempatan Wates kami mengambil jalan ke timur menjuju Gubugklakah. Jalan yang mulai menanjak, udara terasa semakin dingin dan sangat segar. Masih sangat banyak pemukiman di sempanjang jalan aspal yang mulus itu. Di beberapa halaman rumah terhiasi pohon apel dengan bentuk khas rantingnya yang indah. Kebetulan waktu itu adalah musim buah apel, tapi masih sangat kecil-kecil buahnya. Buah apelnya tampak seperti lampu hias yang berjajar rapi di sepanjang ranting-ranting. Soal kebun apel jangan ditanya, tentu saja kami melintasinya, daun-daunnya masih tampak basah sisa embun pagi.

Jalan sudah tak beraspal lagi setelah perbatasan desa dan sebelum Coban Pelangi. Iya, jalur yang kami lalui memang melintasi air terjun yang terkenal dengan penampakan pelanginya. Tapi jalannya lumayan bagus, karna telah dicor beton dengan batu-batu kecil di permukaannya agar tidak licin. Meskipun begitu, tanjakan dengan kemiringan kira-kira 30 sampai 45 derajat menjadi kesulitan tersendiri, memaksa kami hanya menggunakan persneling di gigi satu dan dua saja. Pelan tapi pasti, ditambah dengan rasa ngeri disebabkan pemandangan jurang yang sangat dalam beratus-ratus meter di samping kiri – kanan jalan. Nampak sungai yang terlihat kecil di bawah sana. Kalau loncat ke bawah sana bisa mati gak yah? Hehe..

IMG-20120906-01005

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Sampai di gerbang penanda memasuki Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, kami berhenti sejenak, tak ada satupun petugas di pos jaga. Berfoto-foto ria kami di sana, hehe. Tak lama setelah berfoto dan kami akan berangkat lagi, ada satu petugas yang datang — aku masih ingat, orang itu yang dulu mengurus perijinan pendakian ku ke Semeru. Setelah kami membayar tiket masuk TNBTS seharga Rp. 5.000,- per orang, perjalanan bersepeda motor pun kami lanjutkan.

Tak lama kemudian kami sudah memasuki desa Ngadas, ditandai dengan banyaknya lahan pertanian di sisi kiri – kanan jalan, di antara punggung-punggung gunung. Lahan pertaniannya didominasi dengan jenis sayuran yang katanya untuk diekspor ke Jepang, entah apa namanya. Tapi, sepintas mirip pohon buncis, berbunga kuning mirip bunga sawi. Aku masih saja ternganga takjub disebabkan pemandangan lahan pertanian yang ajaib. Terpikir olehku, bagaimana cara mereka mengolah lahan dengan kemiringan yang sangat curam, bahkan ada yang nampak dengan kemiringan sekitar 80 derajat. Kentang juga menjadi idola para petani di sana. Di sisi kiri – kanan jalan ada beberapa tumpukan karung berisi kentang yang menunggu diangkut turun gunung.

IMG-20120906-01010

Uci

Sekitar jam 8 lewat, kami sudah sampai di pertigaan Jemplang. Dari atas sana sudah mulai terlihat kaldera Tengger, lautan pasir yang masih tertutup kabut putih. Kami memang beruntung masih bisa menikmati suguhan awan kabut putih yang mulai menghilang dengan perlahan. Di pertigaan Jemplang, kami mengambil jalan turun ke kiri, ke arah Lautan Pasir. Jalan yang satunya ke arah selatan itu adalah jalan menuju Ranu Pani. Di jalan menurun itu kami behenti di tempat yang bisa digunakan memandang Lautan Pasir dengan jelas. Tentu saja kami mengabdikan momen itu dengan foto, berlatar Lautan Pasir yang masih ditutupi kabut. Sejuk rasanya di hati ketika memandangi kabut. Imajinasiku melayang, seolah di dalam kabut itu ada ular naga yang meliuk-liuk berenang dengan gagah.

Sukapura-20120906-01037

Pasti pernah mendengar istilah bukit teletubbies kan, yang terdapat di Lautan Pasir? Iya, memang di sana ada gundukan bukit-bukit kecil persis seperti di serial boneka lucu teletubbies. Kami memilih memandanginya dari jauh saja ketika melintasinya dan tentu saja berfoto dengan latar belakang bukit teletubbies. Hehe…

Oh ya, jalan menurun dari Jemplang sudah dicor beton sampai bawah. Meskipun sudah mulai rusak, tapi masih memudahkan sepeda motor dan mobil jenis jip untuk melintasinya. Tapi sekaligus membuatku kecewa, karena jika masih tanah seperti dulu akan sangat menyenangkan bersepeda downhill di sana. Keinginanku yang belum pernah kesampaian.

Beruntung bagi kami, pasir di Lautan Pasir masih agak padat untuk dilewati roda sepeda motor kami. Meskipun begitu, Anik yang tidak berpengalaman sempat beberapa kali terjatuh, motornya oleng akibat roda yang amblas. Anik dan Ninik malah tertawa seakan puas, pengalaman yang tak akan terlupakan kata mereka, ber-offroad ria dengan kendaraan yang tidak sesuai spesifikasi offroad — motor bebek. Beberapa kali pula kami harus menuntun motor karena roda selalu selip, itulah yang jadi kepuasan tersendiri, menaklukkan Lautan Pasir. Kami hanya dibuat melongo oleh penduduk sekitar yang sangat lihai mengendarai motornya dengan kecepatan yang lumayan kencang, sekitar 40km/jam. Sementara kami, bisa 10km/jam sejauh 100 meter saja tanpa terhenti karna roda yang amblas dan selip, sudah sangat beruntung sekali.

Kami berhenti sebentar di Lautan Pasir, dekat Cemoro Lawang dan kawah Bromo. Kontur Bromo terlihat sudah berbeda, akibat erupsi tahun 2011 lalu. Aku pun menikmati suasana dengan duduk ngesot di Lautan Pasir, memandangi pasir hitam yang bekelip-kelip seperti bintang. Di situ kami berunding, apakah akan naik dulu ke kawah Bromo atau melanjutkan perjalanan ke Madakaripura. Rencana awal memang langsung menuju Madakaripura dan baliknya lewat Bromo lagi untuk menikmati matahari tenggelam dari kawah Bromo. Sementara menurut Ninik, lebih baik naik ke kawah Bromo lebih dulu dan nanti setelah dari Madakaripura tidak perlu lagi lewat Bromo, kalau memang sudah tidak kuat, bisa langsung lewat Tongas – Pasuruan – Malang. Tapi, aku malah berpendapat kalau lewat Tongas, perjalanan akan semakin jauh. Dan mereka menyetujui usulku. Di situlah kesalahan ku dan penyebab penyesalanku, aku lupa kalau mereka semua adalah cewek yang tenaganya tak terlatih.

Kami disibukkan dengan mencari-cari toilet di Cemoro Lawang, semua toilet umum ternyata tutup. Beruntung, sesampai di Ngadisari ada masjid yang juga ada fasilitas kamar mandinya. Di situ kami membersihkan diri dan beristirahat sejenak sambil memakan bekal yang kami bawa. Masih sekitar jam 10, kami melanjutkan lagi perjalanan turun gunung menuju Madakaripura. Menyurusi jalanan aspal tebal yang mulus dan tanpa kesulitan mencari arah karna memang hanya itu satu-satunya jalan. Hanya sekali saja kami sempat bertanya arah ketika sampai di pertigaan Sukapura — memang kami semua belum pernah sama sekali ke Madakaripura — dibingungkan dengan papan penunjuk arah, ke kanan Probolinggo kota dan ke kiri Probolinggo. Hehe.. Ternyata jalur yang benar adalah yang ke kiri, menuju Tongas. Setelah itu kami tak kesulitan lagi mencari arah, karena papan penunjuk arah berikutnya sangat jelas – ke kiri Madakaripura. Ada banyak peternak lebah madu di sekitar jalan dekat Madakaripura, mereka memamerkan botol-botol berisi madu, ditambahi dengan papan bertuliskan “Madu Asli.” Jalannya beraspal bagus sampai dengan di gerbang masuk wisata air terjun.

Cukup dengan Rp. 3.000,- per orang kami membayar tiket masuk. Sesampai di parkiran kami di sambut patung Gajah Mada yang sedang bersila dan para penduduk setempat yang berperan sebagai tukang parkir, pemilik warung, dan pemandu. perasaanku agak sedikit kecewa, seperti masuk di tempat pemandian umum saja kesannya, tak ada kesan alami dan nyaman. Di situ kami berganti pakaian untuk basah-basahan, toiletnya lumayan bersih plus airnya yang segar. Kami ditawari oleh seorang bapak yang sudah berumur, untuk memandu kami sampai ke air terjun. Karena menurut bapak itu jaraknya masih jauh dan jalan setapaknya ada yang putus di beberapa bagian. Kami mengiyakan tawarannya dengan imbalan tentunya, katanya sih terserah kami, tapi ujung-ujungnya sesuai tarifnya.. Hehehehee…

Ternyata, jalan menuju air terjun tidak sesulit yang dikatakan bapak pemandu, menyusuri tepian sungai, hanya saja memang perlu beberapa kali menyeberangi sungai kecil yang sangat bening airnya dan dangkal. Asyik dong ya, apalagi batu-batu besar yang berserakan di sungai menambah kesan di perjalanan. Beberapa kali kami melewati warung-warung dadakan di dekat air terjun, memang terkesan kotor, karena tidak rapi dan reyot gubug-gubug kecilnya. Tapi, adanya warung-warung itu jadi obat tersendiri bagi orang-orang yang kedinginan setelah basah terkena cipratan air terjun, dengan menyediakan minuman panas, gorengan, dan mie instan. Aku hanya terpikir ngeri, bagaimana jika musim hujan dan tiba-tiba banjir besar? Terlihat kayu-kayu berserakan di sungai, bekas terseret arus, dan letaknya kadang di atas tebing sungai, pertanda bekas ketinggian air.

IMG-20120906-01086

Baru sampai di air terjun yang pertama, kami sudah heboh terburu-buru bermain air. Apalagi air terjunnya tidak deras dan membentang panjang seperti tirai. Masih sekitar 100 meter lagi dari air terjun utama, kami pelan-pelan saja, menikmati hembusan air yang terasa dingin. Sesampai di air terjun utama, tak henti-hentinya hati memandang takjub, berada di tempat seperti goa. Dikelilingi tebing yang membentuk oval, dengan lebar sekitar 50-100 meter. Di tengah-tengah air terjun tampak mulut goa, yang menurut legenda adalah tempat Gajah Mada bertapa dan muksa. Merinding dan ngeri berada di bawah sana, selain terkesan angker, juga lanskapnya yang berbahaya jika tiba-tiba air bah datang dari atas.

Sudah jam 3 sore, kami sudah berganti pakaian. Juga sempat mengisi perut dengan mie instan dan gorengan di warung dadakan tadi. Kami berangkat pulang, menyusuri jalur yang sama menuju Bromo.

Sungguh perjalanan yang mahal, meski seharusnya sangat murah dan menyenangkan. Handphone Uci yang ditaruh di saku jaketnya hilang, jatuh entah di mana, terakhir kali masih dipakai sesaat setelah mengisi bensin di Sukapura. Sekitar 15 menit jauhnya, kami baru tersadar kalau handphone sudah tidak ada. Terpaksa, aku dan Uci kembali menyusuri jalan, sambil menelepon nomor handphone yang jatuh itu, mungkin saja ada orang baik yang menemukan dan bersedia mengembalikan. Telepon berkali-kali di-reject, aahhh.. Kami berdua menyusuri jalan tanpa harapan menemukan handphone itu.

Kejadian tersebut membuat kami terlambat dari rencana, sudah sore ketika kami sampai di parkiran Bromo, sekitar jam 5 sore. Matahari juga bersembunyi di balik awan, enggan menampakkan senjanya yang menyejukkan. Karena sudah sejauh itu, kami tetap memutuskan untuk naik ke atas kawah Bromo. Cuma ada beberapa orang saja di sana. Uci berjalan tehuyung-huyung, selain lelah, tentu juga karna kesedihan akibat handphone-nya yang hilang. Candaku pun tak memberi arti, meski hatiku juga terasa kecut, aku tetap berusaha ceria. Semakin terasa enggak enak akibat kotoran kuda yang berserakan sepanjang jalur pendakian menuju puncak kawah. Selain bau, juga bikin langkah jadi terhalang.

Baru beberapa menit sampai bibir kawah, Anik dan Ninik sudah banyak mengambil foto, seakan sangat senang menikmati sore yang sudah gelap di kawah Bromo. Sementara aku sama sekali tak merasakan apa-apa di atas sana, hanya kecut yang terasa dan bau belerang yang menusuk hidung, apalagi jika melihat wajah Uci yang muram. (´._.`) hmmmm… Tapi, seketika aku dikejutkan oleh suara menggelegar dari dalam kawah, seperti petir. Aku hanya melongo memandangi kawah yang sudah sangat berbeda, muncul genangan air berwarna hijau di dasar kawah. Kalau memang akan terjadi erupsi lagi dengan seketika, sudah sangat terlambat bagi kami untuk menyelamatkan diri. Karena langit juga sudah semakin gelap, aku mengajak mereka semuat bergegas turun.

Sial! Aku melupakan ranselku, yang kutaruh ketika akan menggendong Uci. Baru teringat sesaat setelah sampai di parkiran. Ahh.. Aku terpaksa kembali, sambil mengingat-ingat di mana aku melupakan ranselku tadi. Seingatku di tengah-tengah tanjakan gunung Bromo, dekat dengan penjual bunga Edelweis, di sana aku mulai menggendong Uci. Aku berlari, tergesa-gesa, sudah tak ada lagi cahaya matahari. Aku tak ingin membuang waktu. Sebelum sampai tempat yang kutuju, ada dua anak kecil usia SD turun sambil menenteng ransel ku, aku langsung menanyakannya. Anak-anak yang baik, langsung saja mereka mengembalikan tanpa meminta imbalan. Sesampai di bawah, ku beri mereka sedikit uang tanda terimakasih, meski sangat tak senilai dengan kebaikan mereka. Mereka naik jeep bersama keluarga, dan naik ke puncak tanpa ditemani. Hmmmm…

Mendengar informasi dari penjaga parkir, rencana kami pulang lewat Pananjakan dibatalkan. Menurutnya, jalan menanjak di sana sedang diperbaiki dan lebih sulit dari pada lewat Jemplang.

Tak membuang waktu, kami bergegas mengendarai motor menyusuri Lautan Pasir yang sangat gelap. Malam itu langit sangat cerah, bintang-bintang tak hanya terlihat jelas di langit. Di bawah pun pasirnya berkelip-kelip bagaikan bintang, membuat Uci takjub, berkali-kali dia mengatakannya, “apik, yo..”

Tapi sama sekali tak membuat perasaanku jadi lebih baik. Bagaimana tidak, dua motor dan hanya aku satu-satunya cowok. Berbekal jejak ban di Lautan Pasir yang gelap sebagai satu-satunya navigasi kami. Apalagi Anik sudah sangat kelelahan mengendarai motornya yang berulang kali amblas dan selip rodanya. Wajar saja jika jadi lebih sulit, pasirnya sudah sangat kering diterpa matahari, tidak lagi padat ketika masih pagi.

IMG-20120906-01019

Anik Dwi Kumalasari, seorang yang akan sangat galau jika mendengar kata “gunung,” membuatnya ingin segera menggendong ranselnya.

Berulang kali kami harus menuntun motor. Perasaanku semakin mengkerut mendengar keluhan dari Anik dan Ninik. Kami sempat berpikiran, jika saja ada orang lokal yang lewat dan berboncengan, kami akan meminta mereka mengendarai motor Anik dengan imbalan tentunya. Sudah separuh perjalanan di Lautan pasir, ada orang yang lewat, tapi mengendarai motor sendirian. Sesaat kemudian, mobil jeep dengan bak terbuka yang tadi berpapasan dengan kami, kembali lagi. Kami menyetopnya, meminta tumpangan, tapi hanya Anik dan Ninik yang menumpang. Inginku sih sekalian motor Anik dinaikkan juga ke mobil. Karna tak ada tali, terpaksa Uci yang harus mengendarai motor itu, juga karna tenaga Uci masih lebih prima.

Tetap saja, Uci kesulitan, beberapa kali harus menuntun motor. Andai saja aku bisa menjadi dua.

Perasaanku sudah agak lega sesampai di jalan cor yang menanjak. Aku hanya takut jika ada makhluk halus yang mengganggu kami. Semakin lega melihat mobil yang ditumpangi Anik dan Ninik menunggu di Jemplang.

“Semestinya, aku tak menunda untuk mengakrabi apa yang kulewati.”

Dituturkan oleh ..

IMG-20120715-00884_1

 Oleqnur.

Seorang tukang kebun yang ingin jadi petani. Seorang yang lebih menikmati perjalanan dari pada destinasi, meskipun sangat menikmati di beberapa tempat tertentu. Bukan pendaki, tapi sangat ingin menapakkan kaki di setiap puncak gunung di Indonesia. Seorang yang suka beranggapan bahwa “aku ini temanmu”.

twitter: @oleqnur

Blog: Abang Galau