Bali: A Harmony in Diversity

A year ago, a beautiful island named Bali

I reached my lil-girl-dream, stepped on Bali’s beach sand, gasped Bali’s air

The Land of God, Pulau Dewata, dan entah apalagi julukan yang menggambarkan keindahan pulau Bali. Bagi saya, Bali adalah mimpi dari semenjak saya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Sungguh indah di pulau Bali.. Pulau dewata menawan hati.. sayang sayang waktuku pulang teringat slalu di pulau ini~

Ingatkah dengan lagu ini?

Dan juga lagu yang sangat akrab di telinga saya saat masih kecil.

Denpasar moon….na na na na na na na😀 (to tell you the truth, I dunno the complete lyrics, I was in a kindergarten when I heard that interesting song)

 A year ago, a beautiful island named Bali

Walked down the beach, played sands, enjoyed the sea breeze, talked to strangers, and had new friends.

Pare, Kediri

Hanya seharga Rp 300.000 untuk menikmati Bali selama 3 hari 2 malam, termasuk makan, transportasi, hostel, dan biaya masuk 11 objek wisata (yang belakangan saya tahu kenapa bisa murah karena objek wisata yang kami kunjungi kebanyakan FREE alias gratis dari tiket masuk a.k.a pahe- paket hemat, haha!). Saya pun tidak menyia-yiakan kesempatan ini dan saya mendaftar! Bali.. I’m coming!

A year ago, a beautiful island named Bali

Sat on the sand, breath the Bali’s air as much as I can and hold it in my chest.

Saya masih ingat hari itu.. hari jumat siang dengan matahari yang seakan berada tepat di atas ubun-ubun. Satu bis kecil berisi sekitar 30 orang yang berbagi ruang dengan barang berangkat dari Pare, Kediri. Malam harinya kami telah bersiap-siap menyeberang dari pelabuhan di ujung timur Pulau Jawa, Ketapang – Banyuwangi ke pelabuhan di gerbang barat Pulau Bali, Gilimanuk, setelah dua kali berhenti untuk menghela napas sejenak sambil beristirahat, salat, juga makan. My first experience crossing the strait, saya memilih untuk ke dek teratas dari kapal feri ini, memandang biuh-buih air yang diterjang kapal di laut lepas, merasakan tamparan angin laut yang langsung menerpa muka, memandang di kejauhan kerlap kerlip lampu di pulau Bali yang masih “bercerita” hingga malam hari.

(1)

Matahari belum tampak saat kami sampai di gerbang ujung barat pulau ini. Perjalanan masih berlanjut, tujuan pertama  adalah Tanah Lot. Tak banyak yang dapat dilihat pada pukul 01.00 WITA bukan? Saya pun memilih untuk mengistirahatkan mata yang pedih setelah semalam diterpa angin laut. Sekitar pukul empat subuh saat matahari baru bersiap-siap untuk menampakkan sinarnya, kami pun telah bersiap-siap juga untuk melihat (2)

Ternyata Tanah Lot bukan tempat yang tepat untuk melihat sunrise, matahari pagi tak tampak dari sini karena berada di bagian barat pulau. Datanglah kemari jika hari menjelang sore untuk menyambut sunset. Yang saya kagumi dari Tanah Lot adalah detail  tamannya yang indah dan terawat, puas-puaslah menyusuri tamannya maka anda pun akan kagum dengan betapa teraturnya taman ini, diatur sampai ke sudut-sudut kecil dari daratan yang seakan menjorok ke luar.

A year ago, a beautiful island named Bali

The society, the roads, the buildings. I felt I wasn’t on earth, it is another world.

 Tak ada yang berlebihan dari julukan “Pulau Dewata”, disini saya merasa sedang berada di tempat dengan atmosfer lain di atas bumi. Jalanannya, bangunannya, masyarakatnya, atmosfernya, semua seperti diatur sedemikian rupa untuk memanjakan seluruh panca indra para wisatawan. Tak ada yang terkesan terburu-buru disini, semuanya mengalir tenang setenang aliran air, damai dan indah tentu saja. Tak heran jika tahun ini Bali dinobatkan sebagai pulau terbaik di Asia versi Conde Nast Traveler. (http://www.cntraveler.com/search/bali

 A year ago, a beautiful island named Bali

I found western in eastern.

(4)

Daerah Kuta, Bali. Pantai Kuta dengan pasir putihnya yang memesona, Jalan Legian yang 10 tahun lalu chaos karena adanya bom Bali yang menewaskan 220 orang wisatawan lokal maupun manca negara. Di Jalan Legian ini saya melihat bagaimana atmosfer  ketimuran Bali bersatu dengan atmosfer barat tanpa menghilangkan ciri khas ke-Bali-annya.

(5)

A year ago, a beautiful island named Bali

Felt the mystique of this land of God.

(6)

Danau Bedugul dan pura di dalamnya saya rasa adalah tempat yang terkesan paling mistis, tenang, dan damai yang saya kunjungi selama berada di Bali. Undefined feeling!

(7) source  google

(source: baliawesometours.com)

A year ago, a beautiful island named Bali

Feed a fish and turtle, my first experience.

Kami juga berkunjung ke Tanjung Benoa – yang disebut-sebut sebagai tempat wisata air terfavorit di Bali – untuk menyeberang ke Pulau Penyu, di sini banyak wisata air yang bisa di coba, seperti banana boat, jet sky, parasailing, flying fish, diving, dan lain-lain.

 A year ago, a beautiful island named Bali

Saw how buildings integrated with the beaches.

Sanur beach, it is. Di mana saya melihat bagian belakang hotel yang terintegrasi dengan pasir pantai sebagai teras terbukanya. Wisatawan mana yang tak betah dengan pemandangan ini?

(8)

A year ago, a beautiful island named Bali

Admired the creativity of  “anak negeri”.

 Berkunjung ke pusat Joger, produk kreatif khas Bali yang sudah terkenal ke mana-mana. Just like Dagadu in Jogja. Saya selalu kagum bagaimana kreativitas seseorang yang dapat melihat sesuatu biasa menjadi sesuatu yang menarik dan menjadikannya luar biasa.

 A year ago, a beautiful island named Bali

Saw how traditional market, roads, and worship mingled.

Pasar Kintamani, di mana saya melihat dan merasakan kehidupan masyarakat Bali yang sebenarnya, di mana saya membuktikan kebenaran ungkapan bahwa gambaran umum suatu masyarakat dapat kita lihat dari sektor ekonomi yang berada di kehidupan pasar tradisional. Dan di mana saya juga melihat bagaimana peribadatan, kehidupan sosial, dan kebutuhan ekonomi bersatu dengan keharmonisan yang sungguh indah, di mana para penjual meluangkan waktunya untuk berdoa dan meletakkan suatu karangan bunga – bagian dari peribadatan – di tengan jalan pasar. Indah.

A year ago, a beautiful island named Bali

I found that Harmony in Diversity is not only a motto; it is value of life and society

Saya mengunjungi Bali sehari sebelum hari raya Idul Adha berlangsung, hari di mana umat Hindu juga mempunyai ritual peribadatan di pura. Tak ada selebrasi besar-besaran untuk merayakan hari raya Idul Adha ini, salat ied tetap dilakukan di lapangan tapi berlangsung dengan tenang dan khidmat agar tak menganggu jalannya ibadah para umat Hindu di pura-pura sekitarnya. Indah bukan kebersamaan yang didasarkan atas saling pengertian ini? Setiap umat beragama dapat melaksanakan ibadahnya tanpa merasa terganggu satu sama lain.

A year ago, a beautiful island named Bali

A short trip, a life time memories.

 

3 Days – 2 Night. It was a short trip but kinda lifetime memories because it was my dream since elementary school.

11 places – such a little experience enjoying richness place I have had in Bali.

But those numeral points didn’t trim the lessons and values I got from this island. It taught, touched, and inspired me lot about the beauty in togetherness, solidarity, and living harmony. It changed and gave me many perspectives about the social life of religion in some ways that other things cannot. That I told you a wisdom I got from Bali, so what did you get from traveling to Bali then?😉

About me

 Rere

DSC00386_1600x1200

An adventurer, a life learner, a soul seeker, and a dream catcher who is eagers to master all languages and to learn all cultures. Anak kecil, betah ngobrol, suka nari, doyan jalan-jalan, jatuh cinta sama alam. Kutu buku yang bisa seharian plus semalaman kencan plus ngemilin tumpukan buku, koran, majalah, dan sejenisnya. Who has many dreams and struggling to live her dreams.🙂

 Have a chit chat with me at @r_cyntara

Follow my journey at www.reecyntara.wordpress.com