Menikmati Negeri di Atas Awan – Dieng Plateau

Di bayang wajahmu
Kutemukan kasih dan hidup
Yang lama lelah aku cari
Di 
masa lalu

Kau datang padaku
Kau tawarkan hati nan lugu
Selalu mencoba mengerti
Hasrat dalam diri

Kau mainkan untukku..
Sebuah lagu tentang negeri di awan
Di 
mana kedamaian menjadi istananya
Dan kini tengah kaubawa
Aku menuju kesana

Ternyata hatimu
Penuh dengan bahasa kasih
Yang terungkapkan dengan pasti
Dalam suka dan sedih

(Lirik lagu ‘Negeri di Awan’ – Katon Bagaskara. Katanya dulu penyanyi ini sering menghabiskan waktunya mencari ide di Dieng.)

Ini adalah kenangan saya saat mengunjungi negeri di atas awan .. Saya mendatangi Dieng Plateau, salah satu pesona pariwisata Indonesia ..

Hari Pertama

Perjalanan saya ke kawasan Wonosobo-Jawa Tengah dimulai dari pelataran Hotel Kartika Chandra di bilangan Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Saya melakukan trip ke Dieng Plateau, negeri yang kerap disebut sebagai ‘Negeri di Atas Awan’ karena merupakan dataran tertinggi kedua di dunia, setelah Tibet. Saya tidak sendirian dalam perjalanan ini, namun bersama kawan-kawan baru yang saya kenal lewat sebuah trip organizer. Perjalanan yang diperkirakan hanya berlangsung sekitar sepuluh jam, ternyata molor tak tanggung-tanggung sampai sekitar 13 jam, dikarenakan kemacetan di area tol Cikampek.

Kepenatan selama belasan jam di dalam mini bus akhirnya terbayar sudah, ketika saya melihat pemandangan melalui jendela di sisi kanan saya. Pegunungan dan dataran yang bertingkat-tingkat berwarna hijau, menyegarkan mata saya yang sehari-hari lelah berkutat dengan layar komputer selama berjam-jam. Saya telah sampai di Wonosobo dan sebentar lagi, memasuki kawasan Dieng Plateau sebagai tujuan utama perjalanan saya.

Pemandangan tepat sebelum masuk kawasan Dieng Plateau. Amazing!

Sejenak kembali ke beberapa waktu lalu, alasan mengapa saya memilih Dieng menjadi tujuan traveling saya berikutnya ..

Saya sering merasa, sesungguhnya bukan saya yang memilih tempat-tempat itu untuk saya datangi. Melainkan sebaliknya, mereka seolah melambai-lambai kepada saya menanti untuk saya kunjungi. Terbukti, beberapa kali saya merencanakan ke suatu kota atau negara, namun seringnya yang terealisasikan justru tempat-tempat yang sebelumnya tak terpikirkan di otak saya. Dan kenapa Dieng? Karena beberapa bulan sebelumnya tiga kawan dari Travel Troopers seolah ‘meracuni’ otak saya dengan membagi kenangan-kenangan mereka yang terekam dalam gambar saat berada di Dieng (thanks to @harry_mdj, @JustAntho, and @SiRozy). Dan begitulah, ketika ada info dari sebuah trip organizer untuk mengunjungi Dieng dengan paket yang harganya masuk akal, saya pun bergabung.

Welcome to Dieng Plateau Area

Di Dieng, saya menginap di sebuah homestay yang bernama ‘Nusa Indah’. Di dalam kamar yang berisi tiga orang perempuan. Ada Nia dan juga Charisma yang kemudian menjadi teman-teman baru yang menyenangkan.🙂

Penampakan depan Homestay Nusa Indah

Perjalanan pertama kami menyusuri ‘Negerinya Para Dewa’ -julukan lain bagi Dieng- ini dimulai dengan mengunjungi sumber mata air ‘Tuk Bimo Lukar’. Tuk Bimo Lukar adalah mata air suci bagi umat Hindu kuno Dieng. Konon, mata air ini berkhasiat menjadikan kita awet muda jika mencuci muka di sana. Satu per satu dari kami mulai antre mencuci muka di mata air ini. Saya melepas jaket saya sambil menunggu giliran. Saya tak tahu apakah mitos atau legenda itu benar. Saya juga tak berpikir untuk mengkhianati iman saya. Namun saya melakukannya untuk menghormati budaya setempat, karena mencuci muka di sini juga pertanda sebagai permisi masuk di kawasan Dieng.

 

If you reject the food, ignore the customs, fear the religion and avoid the people, you might better stay at home. – James A. Michener.

Selanjutnya kami mengunjungi kompleks candi yang dinamai dengan nama-nama tokoh pewayangan, seperti Candi Arjuna dan Candi Semar. Sejujurnya yang menarik buat saya bukanlah candinya, namun pemandangan di sekitar kompleks yang menyejukkan. Seperti sebuah taman yang luas yang membuat saya betah menghabiskan waktu beristirahat di sana. Udara yang dingin namun tidak menyakitkan, tanaman-tanaman rindang tumbuh dengan aman, dan pegunungan menjadi latar yang menawan. Banyak wisatawan manca negara yang menghabiskan waktunya di sana, juga kumpulan pelajar yang sedang melakukan study tour. Sebuah tempat yang menyenangkan untuk berkumpul.

Setelah puas berkeliling di kawasan ini, kami singgah sebentar di warung di luar jalan masuk. Kami menikmati makanan-makanan ringan yang disajikan di sana dan menikmati minuman khas Dieng, Purwaceng. Minuman hangat yang terbuat dari rempah-rempah ini pada awalnya terasa aneh di lidah saya, seperti jahe yang tidak terlalu saya sukai. Tapi pada sesapan kedua dan selanjutnya, saya merasakan perut saya menjadi nyaman.

Purwaceng yang berkhasiat memberi stamina terutama bagi para pria *uhuk*

Hari Kedua

Saya percaya, sebuah pemandangan yang menakjubkan selalu disediakan bagi mereka yang mau berlelah-lelah..

Dan kelelahan saya terbayar sudah, bukan hanya setelah menempuh belasan jam perjalanan darat menuju Dieng, namun lebih-lebih saat saya melakukan pendakian ke Gunung Sikunir untuk menyambut terbitnya matahari. Sekitar pukul empat pagi hari, kami mulai berangkat dari homestay menuju kawasan Gunung Sikunir untuk melakukan trekking. Kalau dipikir-pikir sekarang, saya merasa bodoh dengan berbagai umpatan yang saya keluarkan saat pelan-pelan kaki saya melangkah lebih tinggi dan semakin tinggi menuju spot untuk melihat matahari terbit. Tapi kalau mengingat betapa sakit kaki saya saat itu juga napas yang tersengal-sengal dan dada yang seperti mau meledak, rasanya saya bisa memaklumi diri saya sendiri walau tetap saja merasa ‘bodoh’. Ucapan terima kasih spesial saya berikan kepada Nia dan Triasa yang mau sabar menunggui dan menyemangati saya yang beberapa kali berhenti karena kelelahan.

“Kamu duluan aja nggak apa, Nia.”

“Nggak Dini, pokoknya aku tungguin kamu.”      

“Masih jauh nggak sih?”

“Enggak, udah deket kok! Tuh udah kelihatan.”

Saya sempat marah dalam hati kepada mereka berdua yang terus berkata “sudah dekat” padahal saat didatangi, tempatnya masih lumayan jauh. Tapi saya sangat bersyukur karena kalau tidak begitu, saya akan tetap memilih menyerah dan duduk saja di tepi tanjakan dan terpisah dari yang lainnya. Sesampai di tujuan, Nia bahkan memuji saya hebat. Ah, saya bukan hebat, saya hanya beruntung masih diberi kekuatan dan juga teman seperti dia. Baru saling mengenal beberapa jam, namun tidak ragu-ragu menyuntikkan semangat. Dan sebagai imbalannya, keindahan matahari pagi kami nikmati sambil tersenyum bersama kawan-kawan lain yang lebih dulu sampai.🙂

A new friend could be an angel that God has sent to us.. We might never know till we got the priceless help from him/her.. 🙂

Sunrise at Sikunir

Bersama teman sekamar saya: Nia dan Charisma🙂

Masih ada beberapa spot lain yang saya kunjungi di Dieng, namun akan saya ceritakan secara ringkas saja. Ada Telogo Warno dengan air danaunya yang hijau dan goa-goa di kawasan sekitarnya yang biasa digunakan untuk bertapa. Di kawasan ini juga kita bisa menikmati Dieng Plateau Theathre yang menceritakan tentang kondisi alam Dieng. Ada Telaga Menjer sebagai danau terluas di kawasan Wonosobo dengan cakupan 70 hektar yang bisa kita kelilingi dengan perahu sewaan, juga Kawah Sikidang yang mengingatkan saya dengan Kawah Putih di Bandung yang mengandung belerang.

Telogo Warno

Kawah Sikidang dengan asap belerangnya

Telaga Menjer

Dan jangan lupa untuk menikmati sajian Mi Ongklok yang sempat dibahas di sini.. Yang saya nikmati kali itu adalah Mi Ongklok Longkrang, yang katanya adalah Mi Ongklok nomor satu di Wonosobo, milik keluarga Cina turun temurun. Rasanya? Enak banget!🙂

Mi Ongklok Sate Sapi Longkrang, Wonosobo

Saya rasa, tidaklah berlebihan kalau menyebut Dieng Plateau sebagai ‘Negeri di Atas Awan’, karena letaknya yang berada sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Di sini mata kita akan dipuaskan dengan pemandangan indah sejauh kepala kita mendongak. Dan bagi para pendaki atau pecinta ketinggian, Dieng adalah kawasan yang memanjakan hasrat petualangan mereka. Waktu dua hari sebenarnya kurang untuk menikmati kawasan Dieng Plateau, apalagi dengan belasan jam perjalanan darat dari Jakarta. Saya sarankan untuk memiliki waktu setidaknya tiga hari, murni untuk berkeliling kawasan Dieng Plateau.🙂

Ada beberapa kesimpulan yang bisa saya tarik dari perjalanan singkat di akhir pekan ini (2-4 November 2012):

  1. Ketika melakukan perjalanan bersama trip organizer, memang ada untungnya kita tak perlu repot-repot memikirkan sendiri segala sesuatunya. Tinggal bayar uang dan menikmati paketnya. Tapi ketika ada hal-hal yang nggak sesuai dengan keingingan kita, itu adalah risiko yang harus kita terima. Misalnya, waktu perjalanan yang molor sehingga ada dua tempat yang harus dilewatkan, kamar mandi yang air panasnya rusak, atau makanan yang tidak sesuai selera kita.
  2. Saya sungguh menikmati Dieng. Udara yang dingin namun segar, memberi kesenangan bagi paru-paru saya. Namun untuk menikmati hal ini, ada beberapa hal yang harus kita siapkan untuk mengantisipasinya: Jaket/sweater tebal, penutup kepala, dan sarung tangan. Siapkan juga obat-obatan seperti minyak kayu putih dan minuman anti masuk angin.
  3. Kontur jalanan Dieng adalah meninggi, pastinya karena ini adalah kawasan pegunungan. Jadi siapkan tenaga, jika perlu latihan fisik sebelum mengunjungi kawasan ini. Saya termasuk orang yang cuek akan hal ini, dan akibatnya saya sering terengah-engah saat menaiki tanjakan, apalagi saat berkeliling Telogo Warno dan juga Gunung Sikunir. Alas kaki yang tepat adalah sandal gunung dan sepatu keds anti selip, karena jalanannya sering licin.

Dinoy

The Writer

Pekerja kantoran yang bercita-cita suatu saat tulisan-tulisannya dapat dibaca oleh khalayak umum dalam wujud sebuah buku. Menjadi pejalan di sela rutinitas kerja, dan mencoba menuliskan kisah perjalanannya di Dinoy’s TravelBlog; juga kisah pengalaman pribadinya di Dinoy Cute. Cuap-cuap pentingnya dapat pula disimak di akun twitter @dinoynovita.