Menggapai Puncak Para Dewa

“Why climb mount Everest?”
“Because it’s there” – George Mallory.

“Batu! Batu! Awas Batu! Awas batu!”
Teriakan-teriakan panik itu mengejutkanku, menyentak sistem syaraf yang segera dicerna otak sebagai tanda bahaya. Kulihat di atas belasan cahaya senter mengarah ke sebuah batu sebesar kambing yang meluncur tepat ke arahku. Reflek, kudorong sekuat tenaga Pinkan yang ada di depanku, tubuhnya hanya sedikit bergeser ke kanan. Akupun berusaha menghindar. Ah, nampaknya reaksi kami sedikit terlambat. Nafasku tertahan melihat guguran yang semakin dekat!

Hanya 10 meter di depan kami batu itu mendadak terhenti, lapisan tebal kerikil dan pasir menghentikan lajunya. Suasana seketika hening. Aku dan Pinkan bertatapan, wajahnya pucat.
“Ayo, kita minggir dulu,” kataku dengan suara bergetar.
Kami beringsut ke kanan, menuju punggungan yang tanahnya terlihat lebih solid.

Puncak Semeru dan awan vulkaniknya

Puncak Semeru dan awan vulkaniknya | Foto : dyudo

Aku menurunkan scarf yang menutupi hidung dan mulutku, menenggak sedikit air dari botol plastik lalu menyimpannya kembali dalam kantong celana cargo. Pinkan, tandem summit attack-ku melakukan hal yang sama. Kami beristirahat dalam posisi berdiri, mengambil nafas dan mengumpulkan tenaga sejenak. Kuangkat tanganku yang gemetar, beberapa ujung jari sarung tanganku terlihat sobek. Sepatu keds yang kukenakan juga koyak dibagian depan. Kami telah mendaki selama 2 jam sejak meninggalkan Cemoro Tunggal atau daerah batas vegetasi. Hanya ada batu,  pasir dan kerikil di jalur dengan kemiringan 50-60 derajat yang memaksa kami mendaki dengan kedua tangan dan kaki. Lapisan kerikil yang tidak stabil di jalur ini memaksa kami mengeluarkan tenaga ekstra agar tidak merosot kembali.  “Tiga langkah maju diikuti satu langkah mundur” demikian rumus yang berlaku di tempat ini, kelakar yang sama sekali tidak lucu mengingat kondisi kami saat ini.

.

“Tiga langkah maju diikuti satu langkah mundur” demikian rumus yang berlaku di tempat ini…

.

Dari kegelapan tiba-tiba muncul sosok yang bergerak tergesa-gesa ke arah kami.
“Kalian tidak apa-apa? Batunya besar sekali.” Ternyata Artha turun untuk memastikan kondisi kami berdua.
“Nggak apa-apa nyet, nyaris saja,” balasku, Pinkan nampaknya masih shock dan belum bersuara.
“Mana Gatot?” tanyaku.
“Ah, menghilang! Terakhir masih keliatan ngacir di depan,” ucapnya dengan nada yang tidak enak didengar.

Kami mendaki Semeru (3.676m dpl) berempat, aku, Artha, Pinkan dan Erlina. Nama yang terakhir ini perempuan dengan ego melebihi laki-laki. Fisik dan staminanya memang prima, itu sebabnya kami memanggilnya Gatot, Gadis Berotot. Ketika berangkat dari shelter di Arcopodo, kami membagi kelompok. Artha mengawal Erlina, sementara aku mendaki bersama Pinkan. Sejak awal perjalanan menuju camp pertama di Ranu Kumbolo aku dan Artha sudah mencium gelagat bahwa Gatot punya misi pribadi untuk memecahkan waktu normal pendaki amatir. Akibatnya Pinkan terseok-seok di belakang. Aku dan Artha yang merangkap sebagai kuda beban dalam kelompok itu terpontang-panting menjaga jarak di antara keduanya. Ritme perjalanan kami terganggu, akibatnya tenaga kami sudah terkuras di awal perjalanan.

Dini hari itu kami bertiga berada di ketinggian 3.300 meter di atas permukaan laut. Setelah beristirahat sesaat, tubuhku kembali menggigil kedinginan. Di atas bintang-gemintang terlihat jelas sekali, tapi kami tidak punya banyak waktu untuk menikmatinya. Kami harus mendaki setinggi mungkin sebelum matahari terbit. Di atas dan di bawah kami ratusan pendaki lain mengular menuju puncak. Cahaya senter mereka berkelap-kelip di kejauhan, perjuangan kami masih panjang.

Ranu Kumbolo di ketinggian 2.400m dpl

Ranu Kumbolo | Foto : Adi Wiyono
http://www.adiwiyono.com

Untuk mencapai puncak Semeru tepat pada 17 Agustus seperti biasa kami memulai pendakian di tanggal 15 dari desa terakhir di tepian dua tasik, Ranu Pane dan Ranu Regulo (2.200m dpl). Menyusuri ladang sayur yang berjajar rapi, berbelok ke kiri di tanjakan yang kami sebut Tanjakan Peremuk Jantung. Tidak terlalu terjal, tapi harus pintar mencari ritme. Sebab jika tidak, tanjakan pertama ini akan langsung membuat tubuh kekurangan oksigen dan pandanganmu berkunang-kunang. Selebihnya trekking bonus di jalur landai menembus hutan lembab, memutari beberapa bukit sejauh 10 km hingga tiba di pos Ranu Kumbolo. Danau vulkanik di ketinggian 2.400m dpl ini sangat mempesona, terlebih saat kabut melayang ringan di atas permukaanya seolah mencoba menahan surya pagi yang terbit di antara dua bukit. Magis!

Semalam di tepi Ranu Kumbolo, keesokan pagi perjalanan kami teruskan ke arah tenggara melalui Tanjakan Cinta, lalu membelah lembah Savana Oro-oro Ombo hingga tiba di ujung hutan pinus Cemoro Kandang. Vista sepanjang perjalanan Ranu Kumbolo hingga tepi Cemoro Kandang memang favoritku, selalu memanggil untuk kembali. Aku sering membayangkan daerah ini sebagai padang perburuan kaum Indian di tepian Rio Pecos. Lalu Old Shatterhand dan Winnetou berkuda diantara savana kecoklatan sementara aku mengamati dari kejauhan. Howgh!

Savana Oro-oro Ombo

Savana Oro-oro Ombo | Foto : khyberpassindonesia
http://khyberpassindonesia.blogspot.com

Dari tepian savana kami melanjutkan perjalanan, masuk ke dalam hutan pinus. Dua jam trekking mengikuti jalan setapak berpedoman pada patok penunjuk arah membawa kami ke daerah yang disebut Jambangan. Dari tempat ini puncak Mahameru dapat terlihat jelas, kami terus menyusuri jalan setapak di tepi padang Edelweiss (Anaphalis javanica) menuju Pos Kalimati (2.700m dpl).

Pendakian kami tertahan semalam di Kalimati. Kami sedang sial, Jagawana mendadak memberlakukan kuota. Jumlah pendaki yang membludak dikhawatirkan dapat membahayakan pendakian. Agustus adalah peak season, ribuan pendaki dari berbagai penjuru ingin mengikuti upacara hari kemerdekaan di puncak Semeru. Penundaan ini tidak terlalu merisaukan sebab logistik yang kami bawa masih cukup untuk 2-3 hari ke depan. Aku dan Artha masing-masing membawa 5 liter air di carrier kami, ditambah perbekalan dan perlengkapan total beban yang kami panggul sekitar 20 – 30 kg. Kami melewatkan sore itu di sumber air sekitar 25 menit arah barat Kalimati.

Siang tanggal 17 Agustus, kami berempat bergerak menuju Arcopodo (2.900 m dpl). Dari camping ground kami menuruni tebing, melewati daerah berpasir legam dengan batu-batu besar yang berserakan memanjang dari timur ke barat. Dugaan kami daerah ini yang sebenarnya disebut Kalimati, sebuah jalur lahar atau bekas sungai yang telah mengering. Saat ini jalur lahar dari puncak Semeru memang mengarah ke selatan ke arah Kabupaten Lumajang dan bermuara di Samudra Hindia, berlawanan dengan posisi kami di sisi utara gunung.

Kami terus mendaki melalui jalur terjal, lebih waspada sebab di kanan-kiri jurang menganga lebar. Mendekati Arcopodo, beberapa kali terdengar letusan dari puncak. Kemudian diikuti kepulan asap vulkanik yang membumbung tinggi, angin bertiup ke barat laut. Awan cendawan itu melintas ribuan meter di atas kami, tak lama berselang daun-daun bergemerisik seperti tersiram hujan. Material mikro vulkanik berupa butiran pasir halus mengguyur kami!

.

Material mikro vulkanik berupa butiran pasir halus mengguyur kami!

.

Kelik, Arcopodo

Kelik, Arcopodo | Foto : Mas Aryo
http://aryokariyantoymailcom.blogspot.com

Usai mendirikan tenda di landaian sempit, Aku dan Artha naik mendekati batas vegetasi. Memperhatikan jalur yang akan dilewati ratusan pendaki termasuk kami malam nanti. Tepat di depan kami berdiri perkasa lereng Mahameru yang berwarna abu-abu kecoklatan, matahari yang telah rendah di barat menampilkan jelas gurat punggungan-punggungan raksasanya. Dari tempat inilah awal pendakian sesungguhnya dimulai. Aku tak mau berlama-lama di sini, pemandangan lereng raksasa itu bisa merontokkan semangat. Aku berpaling, kusapukan pandangan ke sekeliling. Di titik ini kami sudah berdiri lebih tinggi dari awan. Angin menghembuskan udara dingin menusuk belulang, menggesek pucuk-pucuk pinus yang berderu mengerikan. Dalam temaram senja mataku terantuk pada sebuah monumen tak jauh di bawah kami. Kelik, demikian kami mengenal tempat ini. Disini berdiri prasasti mengenang Kelik dan Jono, dua senior almamater kami yang tewas 11 Januari 1984 dalam pendakian menuju puncak. Kami berhenti sejenak di dekat prasasti, memanjatkan doa sebisa kami. Hening, alam seolah mengingatkan kami untuk selalu waspada karena bahaya setiap saat dapat mengancam.

Kupasang kembali scarf yang telah kubasahi sebagai pelindung hidung dari debu. Artha memberi kode dengan mengacungkan jempol dan menunjuk ke atas, perlahan kami mulai mendaki. Langkah-langkah kami di jalur pasir vulkanik itu terasa lebih berat dari sebelumnya. Baru menjejak beberapa puluh langkah di depan aku menemukan sebuah termometer teronggok di atas pasir. Cairan raksa di dalamnya menunjukkan angka 6 skala celcius. Mendaki di bulan Juli – Agustus berarti mendaki di puncak musim kering dengan suhu terekstrem. Rata-rata suhu di puncak sekitar 4 – 10 derajat celcius dan akan lebih parah bila angin berhembus kencang. Aku termasuk yang beruntung karena pada pendakian setahun lalu dapat menyaksikan hamparan padang rumput yang tertutup kristal es ketika kami secara tak sengaja mendirikan tenda tepat di jalur angin Ranu Kumbolo.

Kusimpan benda temuan itu ke saku celana, bergegas mengejar langkah Artha dan Pinkan di depanku. Menuju puncak abadi para dewa untuk kedua kali.

– Selesai –

.

.

“Lalu untuk apa kalian para pendaki menenggelamkan diri dalam penderitaan di lereng terjal ini?”
“Mengapa kalian rela bersusah payah naik ke puncak, jika nantinya akan turun lagi?”

Di puncak Semeru

Bersama Artha dan Pinkan di puncak | Foto : dok. pribadi

Semua pendaki punya jawabannya masing-masing. Jika hidup adalah mencari kunci jawaban, maka merekalah kaum penggelisah. Yang karenanya akan selalu kembali dan mencari jawaban pada sang alam.

Jika mendaki gunung hanyalah gagah-gagahan dan merasa kuat karena menyandang ransel keren yang membumbung tinggi, pikirkan kembali. Bayangkan ini “…seorang pria Tengger separuh baya telanjang dada; memanggul pokok pinus sepanjang 3 meter. Asap kretek mengepul dari mulutnya. Berjalan tegap meniti bukit dengan senyum yang selalu terkembang setiap kali berpapasan dengan pendaki-pendaki di depannya”. Setiap titik yang kau pijak adalah puncak. Karena pendakian bukan untuk menaklukkan alam, tetapi berusaha mengakrabinya. Bagaimana menurutmu kawan?

Salam Lestari!

.

dyudo profileDimas Yudo Pratomo, traveler wannabe yang terjebak ritme 9 to 5. Pekerja kantoran di belantara beton Jakarta. Jebolan arsitektur yang kini berkutat dalam bidang online marketing, penghobi dan fotografer lepas.  Sedang membangun exit-nya untuk mewujudkan mimpi keliling Indonesia dan melihat dunia. Mari membual tentang apapun di twitter-nya @dyudo, simak juga portfolio dan blog-nya di www.dyudo.com