Soto Ceker Pak Gendut

Malam itu malam minggu, dimana aku sedang kesepian, mencari cinta yang tak kunjung datang dan terjebak dalam zona pertemanan a.k.a friendzone. Daripada bengong-bengong di rumah, aku memutuskan pergi bersama sahabat dahsyatku, untuk mencari makan. Aku dan Ajeng sudah bersahabat sejak masih di dalam kandungan. Makanya kami berdua dahsyat! *bebas*

Tadinya sih, kami ingin sekali makan bakmi yang wuenak tenan, yang letaknya ada di Jalan Radio Dalam, tapi sayangnya, bakmi favoritku ini tutup. Jadi aku memutuskan banting setir untuk beralih ke Jajanan Sabang (dengan niat mencari bakmi favoritku) yang memang pusatnya berada di Sabang.

Tapi sayang… Nasib baik sepertinya tidak memihak kepadaku. Karena ternyata pusatnya aja tutup. Huh!

Di tengah Jalan Sabang, dengan perut lapar, dahaga yang begitu menyakiti tenggorokan, aku melihat sebuah warung tenda yang dengan sekejap mengalihkan duniaku! *tssaaaaah* Aku menemukan sebuah tenda dengan plang “Soto Ceker Pak Gendut”, yang letaknya memang di pinggir Jalan Sabang, tidak jauh dari Toko Duta Suara.

 “Ih, ceker ayam? Itu kan kotor… Nginjek-nginjek tanah, nginjek-nginjek ini, nginjek itu. Kok lo doyan, sih? Denger kata ‘ceker’ aja gue udah ngebayangin macem-macem.” Tapi aku langsung menepis pandangan Ajeng tentang bagaimana dia membayangkan ceker ayam. “Tenang dulu, Sob. Lo cobain dulu, gue yang bayar. Kalo lo nggak doyan, seenggaknya lo nggak rugi-rugi banget.” Mendengar kata ‘dibayarin’ sepertinya membuat Ajeng tergugah hatinya untuk mencoba Soto Ceker Pak Gendut ini.

Aku pun melihat-lihat menu yang ditawarkan oleh jajanan kaki lima ini. Ternyata mereka nggak hanya menjual Soto Ceker saja, namun juga Soto Ranjau, Soto Ayam, Soto Madura, Soto Babat dan Soto Kikil, tapi memang spesialisnya Pak Gendut ini adalah Soto Ceker. Tapi satu teka-teki yang belum terpecahkan sampai sekarang: “Kenapa namanya Pak Gendut? Kenapa nggak kerempeng? Apakah nama ‘Gendut’ sangat menjual? Berarti saya sangat menjual dong?” Ooopppssss… Sayangnya tidak!😀

“Soto Ceker-nya dua ya bang, pake nasi dua. Minumnya jeruk anget, yang satu es teh manis. Gak pake lama ya. Laper!” Perintahku kepada si pelayan. Si pelayan nampaknya takut atau enggan berbuat macam-macam kepadaku, karena aku memerintahnya dengan nada tinggi dan pandangan mataku seperti ‘saya ingin membunuhmu sekarang kalau kamu tidak segera memberikan pesanan saya!’ Ataukah si pelayan takut aku akan memakannya?

DAN… Datanglah.. Si Soto Ceker yang kutunggu-tunggu. Hal yang pertama aku rasakan adalah kuah dari sotonya. Begitulah nasehat mamaku kalau mau makan soto. “Ingat, Nak. Hal pertama yang harus kau lakukan sebelum memakan semangkok soto adalah, cicipi dulu kuahnya. Jangan langsung dicampur sambal, kecap, atau perasan jeruk nipis. Cicipi dulu kuahnya!” Dan hal ini saya lakukan setiap saya memesan soto, di mana pun. And yes, kuahnya delicious! Cocok di lidah!

Barulah aku tuang beberapa sendok sambal, kecap, juga perasan jeruk nipis yang bikin pengen ‘nyruput’ kuahnya. Ajeng pun yang tadinya menolak mentah-mentah makan Soto Ceker, sekarang jadi semangat makan. Entah karena dia lapar, atau saking senengnya aku bayarin makan.

   

“EMPUK BANGET SOOOOOBBBB! COCOK NIH DI LIDAH! COCOK!” seru Ajeng. Aku tidak menghiraukan perkataannya, aku terlalu sibuk mengunyah ceker ayam ini. Cekernya begitu empuk, sampai-sampai tulangnya pun ikut kutelan, karena empuk. Jarang sekali aku makan Soto Ceker yang tulangnya benar-benar empuk seperti ini. Belum lagi karena cuaca Jakarta yang sehabis hujan, Soto Ceker ini begitu nikmat di lidah, karena disajikan hangat dan belum lagi pedesnya yang nampol, bikin keringetan. Berasa terlahir kembali! *lebay*

Tidak terasa satu mangkok Soto Ceker ludes, habis aku makan. Karena aku merasa masih kurang (karena emang porsi makanku portugal – porsi tukang gali) aku memesan semangkok Soto Ceker lagi tanpa nasi. Tapi karena takut nggak habis, kami memutuskan untuk makan ceker-nya berdua.

Oh iya, harga Soto Ceker ini murah meriah. Sesuai dengan kantong mahasiswa. Hanya dengan Rp. 14.000,- kami sudah mendapatkan semangkok Soto Ceker dan sepiring nasi hangat. Tertarik mencoba? Ajak aku ya kalau mau makan!😀

Kalau butuh guide buat makan nih kuliner ajib, bisa hubungi dia nih..

Hallo, namaku Emmilia Hapsari biasa dipanggil Emil, Happy, Cipuy, atau Hapuyy. Aku percaya karma namun aku lebih percaya kamu *efek difriend-zone halah*sekarang ini masih kuliah di Universitas dibilangan Jakarta Selatan. Takut ketinggian, takut air, dan takut diambil hatinya! *deg*Aku suka jalan-jalan, bercita-cita ingin tinggal di Canada kalau kesampean, suka banget makan, apalagi makanan Indonesia!😀

Twitter: @shititsemily

BlogThe Juiciest Peaches