Liburan dengan Ortu? Hayuk!

Bulan Agustus kemarin, gue beruntung punya kesempatan mengajak orang tua untuk liburan bareng. Ini kali pertama gue cuma pergi bertiga dengan mereka, minus dua adik gue yang memilih tinggal di Jakarta.

Tidak sedikit yang bertanya ke gue, apakah ribet liburan bertiga dengan orang tua mengingat umur mereka sudah semakin senja, dan gue yang lebih sering liburan sendiri atau dengan teman.

Jawaban gue: RIBET tapi SENANG!

Kapan lagi coba bisa berbagi hobi jalan-jalan lo dengan orang tua yang sudah sering lo tinggal dirumah? Yang selalu menunggu lo pulang dari tempat jauh? Yang selalu menjemput lo jauh-jauh ke bandara dan hanya kebagian cerita dan oleh-oleh? *provokasi*🙂

Tertarik liburan dengan orang tua dalam waktu dekat?

Ada beberapa hal yang harus lo perhatikan saat mengajak orang tua kita jalan-jalan.

1. Pilih waktu liburan yang pas

 Mempersiapkan liburan dengan orang tua itu simpel-simpel-susah. Kalau lo bekerja, usahakan jangan pas momen peak-time di kantor. Bisa jadi beban pikiran saat menjelang keberangkatan dan malah pusing sendiri.

Jangan sampai mood lo bakal berantakan karena orang tua lo yang paling merasakan itu. You want to have fun with them, right?

2. Pilih tempat wisata yang sudah pernah lo kunjungi (kalau bisa)

Sebenarnya ini tidak wajib, tapi akan jauh lebih mudah bagi lo untuk menyiapkan segala sesuatu dan meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Tapi tidak ada salahnya juga mengunjungi tempat baru bersama orang tua. Yang penting semua senang!😀

3. Tentukan bujet pengeluaran selama liburan

Nah, ini bagian paling tricky dari semuanya. Berdasarkan pengalaman gue kemarin, realisasi pengeluaran liburan nyaris 1,5 kali lipat dari bujet!😀

Jadi, jangan samakan bujet liburan sendiri atau bareng teman dengan liburan bareng orang tua. Dari bujet yang sudah dibuat, di mark-up 10% untuk pengeluaran tidak terduga. Jadi nggak kaget kayak gue pas realisasi biaya liburan kemarin.🙂

4. Berbagi informasi tujuan wisata dengan orang tua

Orang tua gue adalah orang-orang paling kepo[1] sedunia. Sedikit-sedikit tanya. Jadi daripada gue ribet menjelaskan kita mau berwisata kemana saja, hal mudah yang gue lakukan adalah memberi tahu tujuan daerah wisata ke mereka. Biar mereka heboh sendiri googling dan menentukan objek wisata mana yang mereka mau kunjungi. Terkadang beda lho interest kita dengan mereka. Gue  suka laut, mereka lebih suka ke gunung atau ngobrol dengan masyarakat lokal setempat. Nah ini yang harus diimbangi dalam pembuatan itinerary[2]-nya nanti.

5. Pilih tempat penginapan yang family-friendly

Jangan ajak orang tua lo menginap di daerah red-district[3] atau yang dekat dengan bar yang berisik 24 jam. Mungkin buat kita asyik karena biasanya strategis letaknya, tapi orang tua kita bisa jadi jengah dan tidak bisa tidur. Dengan adanya www.agoda.com, www.tripadvisor.com , www.expedia.com dan lain lain, memilih penginapan bukan hal yang susah lagi kan?

Sekali-sekali tengok deh Opung Google, jangan Redtub… *kemudian-sambungan-internet-mati*

6. Cari tahu lokasi Rumah Sakit dan Klinik dokter terdekat dari penginapan

Berhubung orang tua gue termasuk golongan sepuh dan penyakit mereka juga cukup ajaib, gue merasa info rumah sakit dan klinik dokter itu adalah hal penting untuk gue simpan. Bukannya mendoakan yang tidak-tidak, tapi untuk meminimalisir kekhawatiran saat berada di tujuan wisata.🙂

7. Wisata kuliner yang salero kito

Ini baru gue sadari pas sampai di tempat tujuan liburan kemarin, ternyata lidah orang tua gue itu konvensional banget. Gue tawarin makanan lokal yang terkenal, yang diminta malah restoran Padang atau Chinese Food. Darr!😀

It doesn’t mean our parents are not eager to try something new, but to feel a bit of home when being away sometimes unavoidable.🙂

8. Family-time not Gadget-time!

Niatnya mau liburan dan menikmati waktu bersama keluarga kan, bukan sibuk sendiri dengan gadget-super-canggihnya? *UHUK!*😀

Buat gue, liburan kemarin bikin merasa makin dekat dengan keluarga. Mungkin karena mood-nya liburan, mereka lebih terbuka untuk bercerita maupun mendengarkan cerita gue. Puluhan tahun hidup sama mereka, ternyata masih banyak hal baru yang gue ketahui.🙂

….

Seharusnya hidup kita akan berlangsung lebih lama dibandingkan orang tua kita, berarti waktu yang kita miliki untuk dihabiskan bersama mereka ya makin terbatas. Apalagi ditambah kesibukan kita yang konon bejibun.

Bisa menghabiskan beberapa hari dan memonopoli perhatian mereka selama liburan itu terasa nikmat-dunia deh. Walaupun terkadang topik pembicaraan bisa sangatlah sensitif untuk kita, contohnya masalah jodoh (uhuk!) tapi itu tanda sayang mereka kok… *pukpuk-diri-sendiri*

Ajak ortu kita liburan, yuk!🙂

Cheers


[1] Sebutan untuk orang yang selalu ingin tahu detail dari sesuatu yang dilihatnya, khususnya ingin tahu urusan orang lain.

[2] Rencana perjalanan, berisi rincian tujuan perjalanan, kegiatan, serta bujet yang diperlukan.

[3] Kawasan yang dipenuhi rumah bordil.

Pelaku dan pembagi tips

Achied adalah salah satu dari sekian banyak corporate slaves di ibukota. Pertama kali melakukan perjalanan  saat berumur 5 bulan dengan rute Jakarta – Manokwari (Papua), Achied tidak pernah berhenti bermimpi untuk menjelajah dunia (minimal dunia khayal lah hihi..) dengan koper merahnya.

Ambisi terdekatnya adalah membuat akun Twitter @duakoper😀

Tertarik? Colek dia yuk di @achiedz dan intip celotehnya di fakirliburan.wordpress.com