Pemberhentian berikutnya: Smiley Hanoi dan Mystic Halong Bay, siapkan tiket dan paspor Anda

17 Februari 2012

 Duduk manis di dalam tabung pesawat, saya dan empat orang teman siap untuk terbang ke Hanoi dari Saigon. Kelebatan moment-moment selama di Saigon dan Tay Ninh turut pula menemani penerbangan kami selama kurang lebih 1 jam 45 menit tersebut. Moment-moment serunya menawar di Ben Tanh Market, narsis abis di depan Notre Dame Basilica, terkantuk-kantuk di Water Puppet Show, meredam gejolak emosi yag membeludak di War Remnants Museum, merangkak menyusuri Cu Chi Tunnel, melongo melihat megahnya pilar-pilar di Cao Dai Temple sampai ngopi-ngopi lucu di Trung Nguyen Coffee Café.

Saigon

Pukul 10.05 dipagi hari, officially kami akhirnya mendarat di Bandara Internasional Noi Bai – Hanoi. Terpaan angin yang cukup kencang dan dingin (±18ºC) menyambut kami, selangkah keluar dari tabung pesawat. Dengan memanggul bawaan masing-masing, kami segera menuju ke Rising Dragon Hotel yang terletak kurang lebih 1 jam dari Noi Bai, di Jalan Hang Be St. 61, area Old Quarter (Hoan Kiem District), Hanoi.

Check in done, bongkar isi backpack seperlunya dan kami pun mulai melangkah keluar hotel, mencari makan siang di sekitaran hotel. Pilihan kami tertuju pada salah satu resto kecil yang menyajikan makanan khas Vietnam, Pho. Menu yang pas dan nikmat sekali disantap dalam dinginnya udara musim semi di Hanoi ini.

Persinggahan pertama kami adalah salah satu icon dari Hanoi yaitu Hoan Kiem Lake dengan “lonely” Turtle Pagoda-nya dan Ngoc Son Temple. Tidaklah heran jika danau yang satu ini menjadi one of the famous tourist spots karena kecantikan dan ketenangannya dalam pelukan pohon-pohon besar yang berjajar di sekeliling danau, menaungi kursi-kursi yang banyak tersedia untuk bersantai menikmati hijau zamrudnya air danau, tepat di tengah hiruk pikuknya Old Quarter. Salah satu sudut pandang di Ngoc Son Temple favorit saya ada di bagian belakang dari temple ini (seperti dermaga kecil) yang langsung mengarah ke Turtle Pagoda yang ter”isolasi”. So mesmerize !

Hoan Kiem Lake

Melangkah meninggalkan Hoan Kiem Lake, kami nikmati sisa sore itu dengan berkunjung ke Dong Xuan Market di ujung Jalan Hang Ngang – Old Quarter dan usai santap malam yang uendess banget di New Day Resto di Jalan Ma May, kami menghabiskan malam pertama di Hanoi dengan melebur bersama ribuan orang menjejali Night Market yang buka pada hari Jumat sampai Minggu dari jam 19.00 petang sampai hampir tengah malam. Ratusan tenda menjajakan dagangan mereka di sepanjang Jalan Hang Dao sampai Jalan Hang Ngang, mulai dari souvenir, aksesoris, mainan, kaos-kaos Vietnam sampai penganan khas penduduk lokal.

Night Market

18 Februari 2012

Pagi ini sekitar pukul 08.00 pagi, diiringi dengan rintik hujan yang turun, kami bertolak menuju ke Halong Bay untuk menghabiskan satu malam bersama cruise trip. Perjalanan ke Halong Bay kami tempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam (±160km dari Hanoi) dalam balutan jaket dan syal karena cuaca yang sangat dingin dan berangin.

Sesampai di Halong Bay, group yang terdiri dari kami – Indonesia, Belanda, Argentina, Italia, USA, Swiss, Colombia, Rusia, UK dan German ini segera berlayar menembus kabut tipis memasuki area gugusan ribuan pulau-pulau yang tersebar dalam Halong Bay. Alih-alih membuat keindahan Halong Bay bekurang, kabut tipis yang seolah enggan pergi membuat pemandangan Halong Bay menjadi spektakuler dan mistis, bagaikan berlayar memasuki negeri fantasi.

Halong Bay

Sisa terang itu kami habiskan dengan kayaking, tracking dan menggigil kedinginan di sebuah pantai kecil nan sepi. Malam harinya kami lewati dengan berbincang-bincang dengan sesama anggota group lainnya, bertukar informasi tentang negara masing-masing, karaoke, bermain fossball dan dart. It wasn’t fancy but definitely fun !

Friendship Time!

19 Februari 2012

Pada hari kedua ini, kami disambut dengan pemandangan Halong Bay yang sedikit beda karena kabut akhirnya beranjak pergi dan yupe “suguhan” view-nya cantik sekali!

Aktivitas kami hari ini adalah mengunjungi sebuah gua terbesar di area gugusan Halong Bay yang bernama Hang Sung Sot. Gua yang terlihat relatif kecil dari luar ini ternyata sangat luas di bagian dalamnya dengan dihiasi banyak stalaktit dan stalakmit yang beberapa terbentuk menyerupai obyek tertentu seperti Laughing Buddha, kepala Barongsai, kodok, Ebenezer Scrooge dalam Christmas Carol, dll. Salah satu bentuk alami dari batu yang cukup disakralkan adalah bentuk yang menyerupai dan dipercaya adalah fosil penyu yang sedang bertelur (persis juga sih), dengan tumpukan uang tunai di sekitar leher penyu tersebut, yang tak lain tak bukan adalah uang persembahan pengunjung untuk harapan umur yang panjang.

Hang Sung Got

Menjelang siang setelah kami bersiap diri untuk check out, makan siang pun dihidangkan sementara cruise ship kami mulai berlayar santai kembali ke dermaga dan kami harus menempuh perjalan selama 3 jam untuk kembali ke Rising Dragon Hotel di Old Quarter Hanoi.

Kami tutup hari itu dengan berjalan-jalan santai ke arah Hanoi Opera House. Sembari berjalan agak jauh kami menemukan salah satu kuliner lain di Hanoi (Jalan Nha Chung) yaitu My Quang, yang berisi mie putih seperti pho tetapi lebih tebal dengan tekstur lebih kenyal yang disajikan dengan kuah yang ber-taste manis dan sedikit asam (sepintas mirip dengan Tom Yum).

My Quang

 20 Februari 2012

 It’s time to explore Hanoi! Yay!

Dengan berjalan kaki kami memutari 3 district di Hanoi (Hoan Kiem District, Ba Dinh District dan Dong Da District).

Berawal dari Ba Dinh District, kami menyusuri pedestrian West Lake menuju ke Tran Quoc Pagoda. Kuil yang berdiri sejak 1939 ini terlihat menarik dengan pagoda 11 tingkat berwarna merah yang sampai saat ini masih aktif digunakan.

Tran Quoc Pagoda

Masih di district yang sama, langkah kaki membawa kami ke komplek Presidential Palace, Ho Chi Minh Mausoleum yang merupakan makam dari Uncle Ho sebagai orang dan pahlawan no 1 di Vietnam, One Pillar Pagoda yang merupakan salah satu pagoda tertua di Hanoi, Ho Chi Minh Museum, Hanoi Citadel (ancient royal palace pada masa Hanoi masih bernama Thang Long) dan Flag Tower of Hanoi.

Tower of Hanoi

Beranjak ke Dong Da District, kami memasuki Temple of Literature yang pada tahun 1076 SM didirikan untuk menghormati Confucius dan menjadi universitas pertama di Vietnam. Lepas dari Temple Literature kami mencoba berburu kuliner di Jalan Tong Duy Tan – food street area yang dipenuhi resto-resto dan warung-warung, menawarkan beraneka ragam menu.

Temple

Memasuki kembali Hoan Kiem District dari arah timur, kami mengunjungi Hoa Lo Prison yang juga terkenal dengan sebutan Hanoi Hilton. Bekas penjara yang didirikan oleh Perancis semasa penjajahannya di Vietnam, yang juga dipergunakan oleh Vietnam sebagai penjara bagi tahanan tentara Amerika. Hoa Lo Prison saat ini telah menjadi sebuah museum yang aura spooky-nya masih terasa ketika kami memasuki kamar-kamar detention dan alat pancung (Guillotine) ASLI yang dulunya dipakai Perancis untuk menghukum pancung pemberontak kemerdekaan Vietnam dari Perancis.

Hoa Lo Prison

Persinggahan terakhir kami hari ini adalah St. Joseph’s Cathedral yang berdiri megah diantara himpitan toko-toko kecil penduduk dan warung-warung kopi khas Vietnam. Berbeda dengan Notre Dame Basilica yang berwarna oranye muda, St. Joseph’s Cathedral berwarna batu abu gelap dan kental sekali gaya gothic-nya, seolah menyembunyikan banyak cerita dalam misterinya.

St. Joseph’s Cathedral

21 Februari 2012

Last day in Hanoi

Hari terakhir di Hanoi (dan Vietnam tepatnya), kami habiskan dengan selera masing-masing. Saya sendiri lebih memilih duduk-duduk di bangku pedestrian Hoan Kiem Lake, menjajal peruntungan siapa tahu dipertemukan dengan “penunggu” danau yang berupa kura-kura raksasa di mana dipercaya sebagai lambang keberuntungan dan menikmati segelas cappuccino di Highland Coffee Café.

Pagi beranjak siang dan kami pun dengan berat hati harus meninggalkan indah damainya Hanoi – Vietnam.

Just sharing hilarious yet terrifying stories selama terbang dengan Jetstar – Vietnam:

  1. Pada saat handphone diharuskan untuk di-non active-kan (mau take off nih, pesawat sedang bergerak ke landasan pacu) masih banyak handphone yang menyala dan dipakai untuk menelepon, bahkan salah seorang lansia bingung bagaimana cari mematikan handphone-nya dan walhasil beberapa orang ikut andil dalam mematikan handphone ibu tersebut.
  1. Pada saat mau literally landing (lampu cabin sudah dimatikan dan mbak-mbak pramugari sudah duduk manis di kursi masing-masing), tiba-tiba ucluk-ucluk ada nenek dan cucunya berjalan santai di lorong dan melewati saya yang kaget terpana hingga hilang kata-kata sampai mereka terlihat oleh pramugari yang segera meneriaki mereka dengan bahasa setempat dan begitu nenek tersebut balik badan, terlihat mbak-mbaknya kembali ngegosip tanpa peduli dan repot untuk mengecek apakah nenek dan cucunya tersebut sudah safe kembali ke tempat duduknya.

Saya hanya bisa menghela nafas saja pada mbak-mbak pramugari yang sudah mahal senyum, eh tidak juga peduli atas keselamatan penumpang.

Oh yah ada cara pandang yang sungguh menginspirasi saya, dituturkan oleh guide kami sewaktu di Halong Bay, yang menurut saya perlu diacungi jempol yaitu perihal orang Vietnam yang sering dikira orang China. Lokasi geografis Vietnam yang berbatasan langsung dengan beberapa negara termasuk China memang sangat mendukung bahwa anchestor dari orang Vietnam adalah orang China karena dari sisi fisik, orang Vietnam memang terlihat seperti orang China. Menurut guide kami, sebagian dari mereka juga bisa ber-bahasa China pula tetapi satu hal yang mereka tolak yaitu jika mereka dibilang orang China karena mereka adalah orang Vietnam dan menggunakan Bahasa Vietnam sebagai bahasa utama sehari-hari.

Kakek dan nenek saya juga dari China (main land), tetapi saya lahir dengan nama Indonesia, di negara Indonesia serta sebagai Warga Negara Indonesia. Dan sama halnya dengan orang Vietnam, saya pun menolak jika saya dibilang orang China karena saya orang Indonesia dan menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dan sehari-hari, baik dalam pekerjaan, pergaulan maupun dengan keluarga saya. Memang harus saya akui tidak semua orang Indonesia keturunan China, memiliki pandangan yang sama dengan saya dan menggunakan bahasa China (atau bahasa suku di China) sebagai bahasa sehari-hari bahkan bahasa utama dan lebih suka dianggap orang China. Di sisi lain banyak juga orang Indonesia keturunan China yang sama pemikirannya dengan saya dan tidak suka jika dibilang orang China karena kami adalah orang Indonesia. Well kami tidak bisa memilih nenek moyang-kan.

Tentang penulis ..

Cowok asal Kota Malang yang terdampar di ganasnya ibukota. Punya prinsip nasi rawon bisa dimakan dimana saja dan kapan saja. Hobby banget traveling dan kuliner, meskipun di”kekang” oleh jatah cuti yang terbatas dan duit yang mepet.

Fans berat Hercule Poirot, Lord of The Ring dan Cappuccino.

Punya motto “Pack your bag! Get out and have some fun” dan punya mimpi untuk meng”ublek-ublek” Italia.

“Touch” me on @harry_mdj and harrymudjiarto.blogspot.com