“The Killing Fields” Choeung Ek at Cambodia : Tragedi Kemanusiaan Terbesar dan Terburuk Abad ini

Kalender menunjukkan tanggal 17 Agustus 2012 ketika saya menjejakkan kaki di situ. Sunyi……sepi…..dan mencekam suasana saat itu. Hanya derap langkah kaki pengunjung yang terdengar saat mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Kengerian dan duka mendalam menyeruak dari pikiran ini membayangkan kejadian keji dan biadab 33-37 tahun silam tatkala pembantaian dan pembunuhan massal itu terjadi. Tak ada satu katapun yang terucap dari bibir ini selain kepedihan dan kengerian yang dirasakan. Saat satu persatu nyawa direnggut disitulah hidup harus berakhir dan menjadi sangat tidak berarti.  Guratan sejarah hitam itu membawa bangsa Kamboja ke dalam titik kelam dan nadir.

 

Ya….tempat itu dikenal dengan sebutan “The Killing Fields” karena tempat itu merupakan salah satu ladang pembantaian dan pembunuhan massal yang paling terkenal  dari sekitar 300 ladang pembantaian yang ada di seantero Kamboja pada saat rezim komunis Khmer Merah (Khmer Rouge) berkuasa dalam rentang waktu tahun 1975-1979. Tak pelak lagi, “The Killing Fields” Choeung Ek ini merupakan salah satu dari 2 tempat wisata yang paling mengerikan di Kamboja. Satunya lagi yaitu komplek penjara S-21 yang kini dijadikan museum yaitu Tuol Sleng Genocide Museum.

 

The Killing Fields” ini terletak di Distrik Komun Choeung Ek, Khan Dakor.Kira-kira 15 KM sebelah tenggara kota Phnom Penh. Untuk mencapai tempat ini kita dapat menggunakan jasa tuktuk atau ojek motor dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.

 

The Choeung Ek Genocidal Center

Setelah membayar tiket masuk seharga USD 5, kita diberi peralatan audio yang dapat dipilih dalam berbagai bahasa. Sayangnya tidak terdapat pilihan dalam Bahasa Indonesia jadi pilihan jatuh kepada Bahasa Malaysia yang setidaknya mirip sehingga dapat mendengar penjelasan dan dimengerti secara  maksimal.

 

Tiket Masuk

 

 

Memasuki areal “The Killing Fields” ini suasana mencekam langsung menyergap. Dengan luas sekitar 2.5 ha, awalnya tempat ini digunakan sebagai areal pekuburan Cina. Pada era 1975-1979 pada saat Rezim Khmer Merah di bawah pimpinan Pol Pot berkuasa, tempat ini digunakan sebagai tempat untuk membantai dan membunuh rakyat Kamboja yang tidak berdosa yang tidak sepaham dengan doktrin mereka.


Suasana Mencekam😦

Di area ini pengunjung tidak diperkenankan untuk berbicara dan berisik, merokok dan harus berpakaian yang pantas untuk menghormati arwah para korban yang tewas secara tidak wajar di tempat ini.

  

Untuk memahami sejarah dan latar belakang tempat ini kita akan dipandu melalui alat audio yang diberikan pada saat membeli tiket masuk. Dengan dibawa berkeliling di seputar lokasi, kita akan dibawa berhenti pada 18 titik perhentian. Di setiap titik perhentian yang diberi tanda nomor pada lokasi tersebut kita tinggal menekan angka pada tombol yang bersangkutan pada peralatan audio dan seketika akan langsung terdengar penjelasan tentang lokasi pada nomor yang kita pilih.

  

Rezim Khmer Merah di bawah kepemimpinan Pol Pot yang memerintah tahun 1975-1979 benar-benar membawa Bangsa Kamboja masuk dalam masa yang paling kelam dan tragis. Dengan menggusur pemimpin sebelumnya Lon Nol yang dianggap sebagai pemerintahan korup, Pol Pot menerapkan pemerintahan komunis yang sangat ekstrem dan radikal.

 

Betapa tidak. Dengan mengumumkan negara Kamboja sebagai negara baru pada tahun 1975 dan dinyatakan sebagai tahun awal ( Year Zero) untuk membangun segala sesuatunya. Rakyat Kamboja dari berbagai tingkatan dan profesi seperti dokter, guru, pedagang, kaum profesional, pengacara dll dipaksa untuk meninggalkan semua pekerjaan mereka dan dengan menggunakan kekerasan mereka dipaksa menjadi petani untuk menggarap tanah dengan mengedepankan sektor pertanian.

 

Pada masa itu Kamboja benar-benar dibuat terputus dengan dunia luar. Sekolah ditutup, mata uang hilang dari peredaran, hukum ditiadakan, wabah kelaparan dan penyakit merebak. Semua rakyat dikerahkan untuk melakukan kerja paksa di bidang pertanian.

 

Bagi mereka yang tidak sepaham dengan doktrin tersebut atau orang-orang yang dicurigai yang dianggap masih memiliki hubungan dengan rezim lama atau memiliki hubungan dengan asing akan ditangkap dan disiksa oleh tentara Khmer Merah. Oleh karena itu “The Killing Fields” Choeung Ek ini memiliki keterkaitan erat dengan komplek penjara S-21 (yang sekarang menjadi Tuol Sleng Genocide Museum) di Phnom Penh karena di penjara inilah para tahanan dipenjarakan serta disiksa sebelum akhirnya dibawa ke Choeung Ek untuk menjalani eksekusi dengan dibunuh dan dibantai. Sungguh mengerikan…….

 

Duniapun dibuat geger dan gempar. Lebih dari 2 juta jiwa rakyat Kamboja melayang akibat kekejaman serta kekejian tentara Khmer Merah.

 

Titik perhentian yang menarik perhatian saya yaitu No. 7. Di tempat ini ditemukan makam untuk menguburkan jenazah secara massal. Setelah dilakukan penggalian tercatat 450 korban yang dimakamkan secara massal di tempat ini. Suasana agak merinding ketika saya mendekati tempat ini yang tetap dijaga keasliannya. Tampak secara tersamar sisa-sisa pakaian korban yang menyembul ke permukaan tanah.

 

Ladang Pembantaian

 

Kuburan Massal itu

 

 

Para korban dibunuh tentara Khmer Merah tidak dengan cara ditembak menggunakan senjata alasannya untuk menghemat peluru atau amunisi tetapi dengan menggunakan alat-alat tradisonal pertanian seperti cangkul, pisau untuk memotong kelapa, batang bambu dll

 

Berjalan menyusuri sebuah danau kecil di titik perhentian No. 11 dan ditumbuhi dengan pohon-pohon raksasa di sekelilingnya disertai dengan desir angin yang berhembus membuat tempat ini terasa sangat sakral. Suasana di sekitar danau entah mengapa begitu terasa aura mistisnya.

 

Danau yang Mistis *merinding*

 

Langkah kaki berhenti pada titik perhentian No. 14 yaitu berupa kotak kaca yang menyimpan bekas pakaian para korban. Tampak pakaian yang ada sudah tidak utuh lagi dan dalam kondisi tercabik-cabik diperlihatkan di dalam kotak kaca tersebut.

 

Kotak Kaca yang Berisi Bekas Pakaian Para Korban

 

Di titik perhentian No.15 yaitu berupa sebuah pohon besar yang digunakan sebagai tempat eksekusi bagi bayi dan anak-anak. Pada masa itu, rezim Khmer Merah tidak hanya membunuh kaum pria saja tetapi juga kaum wanita dan anak-anak. Pada lukisan yang terdapat di Tuol Sleng Genocide Museum terdapat ilustrasi gambar berupa seorang bayi yang dilempar ke udara dan disambut dengan tusukan bayonet tentara Khmer Merah. Dengan cara itulah bayi-bayi dibunuh di tempat ini.

Di Pohon inilah Bayi dan anak-anak dibantai

Cara lain yaitu bayi dan anak-anak tersebut dilempar dan dibenturkan di pohon besar itu. Pembantaian ini sengaja dilakukan oleh tentara Khmer Merah di hadapan para orang tua bayi dan anak-anak tersebut untuk tujuan interogasi dan selain itu untuk memusnahkan satu generasi agar setelah dewasa nanti anak-anak tersebut tidak bisa membalaskan dendam orang tua mereka. Bisa dibayangkan kekejian dan kebiadaban rezim Khmer Merah ini. Melihat benda-benda milik anak-anak tersebut yang digantungkan dan ditancap pada pohon tersebut sungguh membuat hati ini tersayat perih.

 

Tak kalah membuat bulu kuduk berdiri yaitu pada titik perhentian No. 16 terdapat kotak kaca yang menyimpan potongan tulang belulang para korban yang diperoleh melalui penggalian yang dilakukan setelah tahun 1980.

 

Potongan Tulang Belulang Para Korban

 

Terdapat sebuah pohon besar di titik perhentian No. 17 yang disebut Pohon Ajaib (Magic Tree). Dinamakan pohon ajaib karena dari dalam pohon ini dapat mengeluarkan suara  yang  sengaja dipasang speaker atau pengeras suara yang digantung pada ranting pohon dan diperdengarkan musik tradisional rakyat Kamboja. Ini dilakukan bukan tanpa maksud. Suara musik yang disetel dengan volume keras hanya sebagai kamuflase dan upaya untuk meredam suara jeritan dan tangisan dari para korban yang sedang disiksa dan dibantai agar teriakan mereka tidak  terdengar hingga keluar area ladang pembantaian.

 

Napak tilas berakhir di titik perhentian No. 18 yaitu berupa Stupa Peringatan (Memorial Stupa). Stupa yang berbentuk bangunan setinggi 65 M ini dibangun untuk menyimpan sisa-sisa jasad para korban berupa tengkorak-tengkorak dan untuk menghormati arwah para korban yang tewas di tempat tersebut. Sisa-sisa tengkorak tersusun rapi dalam sebuah lemari kaca. Untuk masuk ke tempat ini pengunjung harus melepaskan alas kaki dan sama sekali tidak diperkenankan untuk  berbicara karena tempat ini sangat dihormati.

 

Memorial Stupa *sambil narsis*

 

Kumpulan Tengkorak Para Korban

Siapapun yang datang ke tempat ini sepakat bahwa semoga tragedi kemanusiaan yang pernah tercatat sebagai tragedi yang  kejam dan sadis ini tidak terulang dan tidak akan pernah terjadi lagi di belahan bumi manapun.

*****

 

Sang Penulis memiliki obsesi untuk dapat menjejakkan kaki ke sebanyak mungkin tempat baik di negeri Indonesia tercinta maupun manca negara. Dunia traveling mewujudkan mimpinya dari hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin dan melalui traveling pula semakin dibukakan bahwa bumi yang kita huni ini sangatlah luas untuk kita hanya mau berenang di kolam kecil saja tanpa ingin mencoba untuk berenang sampai ke lautan lepas.