Nha Trang, Kota dengan Pantai Indah di Belahan Vietnam

Vietnam adalah negara pertama saya membubuhkan cap paspor. Begitu banyak kota atau tempat yang dapat dikunjungi di Vietnam, namun saya memilih Nha Trang dan Ho Chi Minh untuk kunjungan pertama saya ke Vietnam. Kami menginjakkan kaki di Ho Chi Minh hari Senin jam 19.40. Selesai urusan imigrasi, kami pun menuju ke counter taksi. Kenapa tidak naik bus? Karena airport bus terakhir jam 19.00. Taksi yang terpercaya di Vietnam ada dua, yaitu Mai Linh dan Vinasun, oleh karenanya saya langsung menuju counter Mai Linh taksi dan mencoba berinteraksi.

 “Haaiii!” (suara cempreng dengan nada smiling voice saya pun keluar), dan mas-mas pun menjawab dengan nyengir “Haaiii!”, Okeeh… good respon neh pikir saya.

We wanna go to train station, how much it costs?”, laluuu si mas-mas nya hanya bisa nyengir dan bingung dengan pertanyaan saya dan bertanya ke teman wanitanya, si mbak pun dengan senyum menawarkan bantuan, “Yes??”, diulangi lagi pertanyaan saya ke mbak-mbak itu lalu mereka masih bingung. Saya ulangi “Train station!” nampaknya mereka masih bingung! Lalu saya keluarkanlah kalimat ajiib saya “Ga Saigon”. Ga dalam bahasa Vietnam artinya stasiun kereta. Dan mereka pun tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Yaahhh… mereka baru tahu maksud pertanyaan saya. Lalu si mbak nya mengisi voucher seharga 150.000 VD dan mengantarkan kami ke tempat taksinya berada. Dengan menggunakan bahasa tubuh dia memberitahukan kami untuk memberikan voucher ini kepada sang sopir dan tidak perlu kasih uang lagi. Okeh mbak, saya paham! Hehe

Taksi di Vietnam ternyata ada yang sedan, ada juga family car seperti Kijang Inova. Kebetulan yang kami naiki adalah jenis mobil kijang. Dengan setir yang berada di sebelah kiri membuat kami agak kagok melihat jalanan, padahal juga cuma duduk, bukan kami yang menyetir hehe. Suasana kota Ho Chi Minh di malam hari hampir sama dengan Jakarta, kendaraannya terlebih motor sangat padat. Yang menjadi perhatian kami adalah helm yang dipakai pengendara motor lebih terlihat seperti topi dengan motif kreasi dengan mengabaikan sisi safety (hehe… gaya-gayaan safety).

Kami melihat suasana kota dengan membuka kaca mobil, Woowww…. akhirnya sampai juga di Vietnam😀. Karena Saya adalah tipe orang yang suka ngobrol dengan sopir taksi, maka saya coba untuk mengobrol namun kali ini saya lupa bahwa si pak sopir tidak bisa berbahasa Indonesia/Inggris. Pada saat ngobrol awalnya saya hanya ingin menanyakan di mana Ben Thanh Market, eeehhh si pak sopir malah berpikir saya mau ganti tujuan dari “Ga Saigon” menjadi “Ben Thanh Market”, akhirnya saya berucap berkali-kali “No No… Ga Saigon..Ga Saigon”. Fiiuuhhhh…. kemudian hening, mending ga usah ngobrol deehh😀.

Sesampainya di Stasiun Kereta Api Saigon sekitar jam 20.30, sedangkan jadwal kereta ke Nha Trang jam 23.00.  Kami pun langsung menuju loket dan saya takjub, dengan stasiun yang sederhana ternyata di loketnya ada mesin antrian, jadi harus ambil nomor antrian terlebih dahulu. Dan tiba-tiba saya teringat kami belum menukar uang, matiikk!! Hahaha… dari Jakarta memang sengaja bawa uang dalam bentuk USD karena 1 USD ditukar ke Vietnam Dong senilai 20.000 VD, jadi kalau dihitung dalam bentuk rupiah dua kali lipatnya, jadi HorangKayah😀. Kami bawa uang USD 500 dan 200.000 VD namun uang Vietnam Dong nya sudah digunakan untuk taksi L. Dalam kepanikan itu, ternyata ada Lotteria, semacam KFC, saya pun mencoba bertanya untuk tukar uang disana, dan Alhamdulillah… mereka bisa tukar uang walaupun dihargai 1 USD = IDR 19.000, tapi ga papa deh, kami pun tuker hanya pecahan USD 50.

Belum selesai deg-degannya, nomor antrian kami dipanggil, dengan pasang tampang ramah saya pun bertanya dalam bahasa inggris “Bu, untuk tiket ke Nha Trang kelas bisnis”, tiba-tiba si ibu langsung geleng-geleng sambil menggerakkan tangannya tanda dia tidak mau meladeni saya, hiiiikkss… apa salah saya?? Ternyata oh ternyata, dia tidak bisa berbahasa Inggris, dan menunjuk temannya yang lumayan bisa berbahasa Inggris, Baiklaahhh… dan akhirnya kami pun mendapatkan tiketnya, horreee!!

Tiket kereta kelas bisnis

Selama menunggu jam 23.00, kami pun makan malam di Lotteria dengan menu paket nasi+ayam+pepsi+kentang, dan para pelayannya ramah-ramah loohh😀 Di depan stasiun  banyak para backpacker (kebanyakan bule) yang menunggu kereta, dan juga banyak ABG Vietnam yang masih kongkow, ada pula yang jogging malam-malam, hihihi. Lalu Jam pun menunjukkan pukul 23.00, kami bersiap menuju pintu masuknya, dan lewatlah para pasukan berseragam kemeja biru muda dan celana biru tua dengan topi seperti pelaut membawa koper bak pramugara-pramugari. Wooww… takjub kami dibuatnya! Masuklah kami ke peron untuk kelas bisnis. Kelas bisnis ini ber AC dengan bangku model bus-bus bianglala dan dikasih selimut untuk tidur. Begitu kami masuk, sudah ada beberapa kakek-kakek dengan bau minyak cap kampak berada di bangku bagian depan, lalu kami pun memilih duduk di belakang, bukannya karena sombong, tapi karena mereka ngobrol dengan bahasa dewa “cang cing cong” yang tidak kami mengerti, jangan-jangan kita yang diomongin hmmm…. (geer tingkat dewa haha).

Kereta kelas bisnis

Malam itu hujan sangat lebat, yang menyebabkan kereta sempat berhenti lama (isunya jalur rel nya terendam banjir, *informasi gak jelas*), harusnya jam 6 pagi sudah sampai Nha Trang,  menjadi jam 10. Fiiuuhh lumayan pegel, apalagi Nyoman dengan kakinya yang panjang😀.

Sesampainya di Ga Nha Trang, langsung kami mencari taksi, kebetulan dapat taksi Vinasun, tanpa basa-basi saya buka mulut “nguyen thien thuat” (dibaca: nguin thien thuat) sambil menunjukkan alamatnya ke pak sopir. Cuma 10 menit, kami sudah sampai di Son and Daughter Hostel. Hostel ini kamarnya nyaman dengan kamar mandi dalam, AC dan ada kulkas kecil dengan harga 120.000 VD (IDR 60.000). Karena belum waktunya check in, kami menitipkan backpack kami di hostel dan pergi ke pantai Nha Trang dengan berjalan kaki, tapiiiii… baru jalan beberapa langkah, ada toko yang khusus menjual Pho (dibaca: fhe). Beloklah makan pho yang terkenal khas Vietnam, Ueennaaakk!!

Pho – menu sarapan

Setelah kenyang, kami kembali berjalan ke pantai. Dari hostel ke pantai berjalan kaki kira-kira 10 – 15 menit.

Pantai Nha Trang

 Pantai Nha Trang sungguh tertata rapi, bersih, bahkan ada tempat khusus berjemur yang disewakan.

Selesai berfoto-foto di pantai, kami pun kembali ke hostel untuk beristirahat dan kembali melanjutkan jalan-jalan di kota Nha trang dengan berjalan kaki pada sore hari. Setelah pegal-pegal naik kereta kelas bisnis, kami memutuskan untuk balik ke Ho Chi Minh dengan menggunakan pesawat. Namun ternyata harga pesawatnya mahal, maka kami putuskan untuk naik kereta lagi, tapi yang kelas Soft Sleeper. Untuk mendapatkan tiket soft sleeper ini, kami berjalan kaki menuju Ga Nha Trang (stasiun kereta api) sambil keliling-keliling.

Ga Nha Trang

Di Ga Nha Trang saya sempat berfoto ria dengan tukang becak sana🙂

Saya dan Tukang Becak

Dan tidak jauh dari stasiun, ada toko yoghurt, kami pun masuk. Yoghurt dan toppingnya diambil sendiri-sendiri lalu ditimbang, baru mengetahui harga yoghurtnya. Para pelayannya, anak-anak baru gede yang kerja part-time. Awalnya mereka mengira saya gadis Vietnam (hal ini bukan yang pertama kali), lalu akhirnya mereka bertanya bermacam-macam pertanyaan begitu tahu saya dari Indonesia, seperti melatih bahasa Inggris mereka padahal bahasa Inggris saya juga passss banget hahaha.

Sore hingga malam, kami jalan-jalan di kota ini. Kota Nha Trang itu seperti Bali tahun 80-an, namun jalanannya lebih lebar dan masih sepi, dan kebanyakan turis asing (bule) yang berada disini. Vietnam khususnya Nha trang terlihat dalam fase pembangunan besar-besaran, ini terlihat dari banyaknya hotel mewah yang sedang dibangun di pinggir  pantai, juga adanya kereta gantung yang menuju Vinpearl Island Amusement Park. Makan malam kami coba masuk ke restaurant yang sepertinya menarik. Sebenarnya sih yang menarik yaitu mellihat mbak-mbak nya di depan resto yang body nya aduhaaii langsiiingg, siapa tau makan disini saya juga ikutan langsing😀 Akhirnya kami memasuki restoran dan nongkrong agak lama, romantisss… Candle light dinner gitu deh hehehe….dan yang lebih menarik Saigon Beer yang murah meriah yang bikin Nyoman ketagihan, maklum dia fakir bir murah😀.

Hari ketiga kami pun sudah siap bangun pagi karena akan melakukan Boat Trip. Boat Trip inilah yang membuat saya memilih Nha Trang sebagai tujuan kami. Dengan harga per orang 120.000 VD, kami diantar-jemput ke hostel, berkunjung ke empat pulau, snorkeling, makan siang gratis dan hiburan yang cihuyy! Murah, kan? Boat Trip kali ini kami bersama rombongan Indonesia berjumlah lima orang. Kami bertujuh sangat menikmati boat trip ini. Snorkeling dari kapal ke spot snorkeling sebenarnya cukup jauh, jadi harus berenang dulu dengan ombak yang lumayan membuat terombang-ambing tapi tetap seru.

Setelah makan siang, ditengah laut, para awak kapal menyuruh kami untuk melompat ke laut dan menghampiri floating bar. Disebut floating bar, karena barnya mengapung di laut menggunakan pelampung, dan mereka menyediakan minuman yang bisa diminum tamu sepuasnya dengan menggunakan gelas plastik. Para tamu pun berenang di atas laut hanya dengan menggunakan ban. Dari kapal, ada yang langsung lompat ke laut, ada juga yang melalui tangga dan berbaur menjadi satu mengelilingi floating bar. Tidak hanya itu, para kru kapal pun menyediakan hiburan dengan dandanan ala gadis Hawai dengan bernyanyi dan berjoget ria dan menyuruh para tamu berjoget bareng, sungguh menghibur! Kami pun sempat lama di suatu pulau sebagai pemberhentian terakhir. Kalau saya tetap berenang, teman-teman yang lain ada yang bermain kartu remi. Sekitar jam lima sore kami pun sudah berada di Hotel.

Nha Trang Boat Trip                         Lunch                                              Gadis Nha Trang

Malamnya kami makan malam di depan hostel, ada yang jual semacam seafood murah dan enak. Disinilah pertama kalinya saya makan bekicot, hahaha ternyata enak, dan harga 1 piring hanya 10.000 VD. Kami beli lumayan banyak untuk dimakan rame-rame. Lalu dilanjutkan ke pasar malam, untuk mencari nasi. Kami akhirnya memutuskan untuk duduk di satu penjual, disinilah rombongan kami ada yang memesan daging buaya (hiiyyy..!!), saya sendiri pesan daging ostrich (burung unta), rasanya lucu perpaduan antara ayam dengan kenyal daging sapi, enak siihhh hehe.

Bekicot

Hari Terakhir di Nha Trang, kami habiskan dengan berjalan kaki kembali mengeliling Nha Trang. Teman kami 5 orang sudah berangkat pagi menuju ke Hoi An. Sambil berjalan kaki mengelilingi Nha Trang, kami membeli sandwich Vietnam, terdiri dari bagguette (roti Perancis) diisi dengan daging dan sayuran (selada, timun) dan disiram dengan saus. Yummiii…!!

Kereta soft sleeper kami jam tujuh malam, dan sejak jam lima sore kami sudah berada di Ga Nha Trang, sambil nongkrong-nongkrong dulu di toko yoghurt kemarin, ternyata mereka masih mengenali kami hehe… Mereka sangat ramah, senangnyaaa😀 Maunya sih terus nongkrong disitu, tapi kami harus balik ke Ho Chi Minh. Saya sangat rekomen kereta soft sleeper ini, karena nyaman dan cepat, harganya pun standar, harganya sekitar 450.000 VD/orang. Satu kamar terdiri dari empat bed (atas-bawah/tipe bunk bed), kebetulan di kamar kami hanya kami berdua. Tempat tidurnya sangat nyaman. Saking cepatnya kereta melaju, shalat pun tidak bisa berdiri karena pasti akan goyang-goyang, jadilah kami shalat duduk J Perjalanan kami di Vietnam tidaklah sampai disini, namun perjalanan di Nha Trang berakhir di kereta soft sleeper ini. Setiap perjalanan selalu mengukir kisah menarik untuk dilukiskan dalam sebuah cerita. Inilah cerita saya tentang Nha Trang :D Cerita kamu apa??  (loohh… kaya iklan Ind..M..e :p)

Cerita ini ditulis oleh

Fetty Indria
Saya suka traveling dan melukiskan cerita saya