Mengunjungi Rumah Si Lumba-Lumba di Teluk Kiluan Lampung

Di suatu pagi tepat tanggal 1 Januari 2010, semburat cahaya matahari pagi yang kian meninggi mulai merekah di ufuk timur.  Sinarnya mulai memasuki celah-celah jendela kostan yang dibiarkan terbuka lebar semenjak semalam. Maklum, dengan ukuran kostan yang kecil yang dijejali puluhan orang membuat jendela dan pintu sengaja terbuka agar ada sirkulasi udara dan tidak terasa panas.

Cahaya matahari ini seperti menamparku untuk bangun karena begitu menyilaukan mata. Mungkin karena kemarin terlalu lelah saat keliling kota Lampung dengan motor dan merayakan pergantian tahun di Bundaran Gajah membuat kami semua bangun kesiangan. Satu persatu temanku yang tidur berjejer  bak “ikan asin” dijemur mulai beranjak bangun dari alas tikar sambil menunggu gilirannya untuk mandi dan bersih-bersih. Perasaan begitu excited untuk segera menuju habitat asli lumba-lumba hidup di Teluk Kiluan, Samudera Hindia.

Diawal-awal mencari informasi mengenai tempat ini, belum banyak yang mengetahui Teluk Kiluan ini. Umumnya orang-orang yang memiliki hobi memancing yang tahu benar mengenai lokasinya. Bahkan teman-teman ku yang ada di Lampung pun tidak mengetahui keberadaan surga tersembunyi ini. Teluk Kiluan dapat dicapai dari kota Bandar Lampung dengan jarak kurang lebih 80 km yang terletak di kecamatan Kelumbayan Tanggamus, Lampung Selatan. Tepatnya berada di wilayah Teluk Semaka yang sebagian besar memiliki daerah berupa pesisir pantai hingga perbukitan.

Rencana awal untuk berangkat jam 8 pagi sirna sudah, kondisi telat bangun serta jumlah kamar mandi yang terbatas membuat waktu yang dibutuhkan untuk bersih-bersih menjadi lebih lama. Sebagian teman yang sudah mandi mulai mempersiapkan barang bawaan yang akan dibawa, selebihnya ditinggal dikostan ini agar lebih ringan.

Sekitar pukul 10 lewat, matahari sudah terlihat begitu tinggi diatas kepala, terasa begitu terik. Masih ada sebagian kawan yang belum selesai untuk persiapannya,pun mobil Colt Diesel yang kami sewa juga belum menampakan wujudnya. Setelah dihubungi ternyata tersesat mencari lokasi kostan yang lokasinya cukup masuk kedalam dari jalan raya. Akhirnya dengan inisiatif, dijemputlah supir itu dengan motor agar segera sampai lokasi.

Tak lama kemudian, munculah tepat dihadapan kami sebuah mobil Colt Diesel yang terlihat sudah tua berwarna putih dengan plat nomor BE 2478 DL berhenti di depan teras kostan. Supir dan kenek turun kemudian menyapa kami dengan bersahaja, mereka adalah rekomendasi dari pak Dirham yang merupakan penjaga Pulau Kelapa yang tempatnya akan kami sewa disana.

Setelah kami perkirakan kapasitas mobil ini, idealnya hanya dapat menampung sekitar 12 orang penumpang sudah termasuk supir. Komposisinya dengan mobil yang memiliki 4 baris kursi penumpang termasuk baris pengemudi ini disetiap baris nya hanya dapat diisi 3 orang.

Pak, ini mobilnya kira-kira bisa di isi berapa orang? Ucapku bertanya kepada pak supir.

Pertanyaan ku ini untuk menyakinkan kapasitas sebenarnya yang dapat dibawa oleh mobil ini, mengingat kondisi mobilnya yang sudah cukup uzur. Ya walaupun aku tahu ketangguhan mesin Colt Diesel tak perlu diragukan performanya, hanya saja mempertimbangkan kemungkinan lain mengingat berdasarkan informasi yang aku peroleh dari Pak Dirham akses jalanan menuju kesana cukup terjal dan banyak jalanan yang masih rusak.

“Bisa diisi 14 orang mas tapi agak desak-desakan saja didalamnya” Ujarnya.

Dengan adanya kenek berarti kapastitas tinggal 13 orang itu pun harus dilihat barang bawaan. Ya tentu saja mobil ini tak cukup untuk menampung 17 orang yang mau ikut serta, 10 orang dari Jakarta dan ditambah temannya Ilham dan Andra sejumlah 5 orang yang berasal dari Lampung. Tapi sebelumnya kami sudah mengantisipasi beberapa diantaranya akan mengunakan motor. Jadi 4 orang akan menggunakan motor berboncengan dan 13 orang lainnya dapat masuk ke mobil.

Komposisi mobilnya pun yang seharusnya masing-masing diisi 3 orang untuk setiap barisnya kini menjadi 3 orang di depan, 4 orang di baris pertama, 3 orang di baris kedua dan 3 orang di bagian belakang mengingat beberapa diantara kami berbadan besar.

Dengan barang bawaan yang cukup banyak kondisi di dalam mobil ini terasa begitu sesak. Kami membawa 1 aqua gallon untuk persediaan minum disana serta beberapa tas yang berisi pakaian ganti. Bruuuk, pintu bagasi ditutup dengan setengah dibanting agar tertutup, tapi apa daya karena kondisi bagasi yang kecil serta beberapa barang bawaan yang kami bawa cukup banyak membuat bagasi tak dapat ditutup dengan rapat. Akhirnya dengan tali tambang, bagasi diikat agar bisa tertutup dan dapat mengurangi resiko bagasi akan terbuka di tengah-tengah perjalanan dan meluluh-lantahkan barang bawaan jatuh ke jalan.

Mobil Colt Diesel yang kami gunakan

Perjalanan pun dimulai, 2 motor berboncengan yang dikendarai oleh Rian dan Irsyad mengikuti laju mobil Colt Diesel ini dari belakang. Di pertengahan jalan karena ini hari jumat maka kami sempatkan untuk berhenti sejenak untuk shalat di sebuah masjid. Perjalanan menuju Kiluan melewati daerah pesisir dimana jalan utamanya merupakan jalur utama ke beberapa objek wisata pantai yang terkenal di Lampung diantaranya yaitu pantai Mutun dan Kelapa Rapat.

Di bagian awal perjalanan kondisi jalan yang dilewati masih terbilang bagus dengan permukaan aspal. Pemandangan yang dapat dinikmati sepanjang perjalanan di bagian kiri yaitu sesekali tampak laut yang terbentang luas sedangkan di bagian sisi kanan tampak hutan dan pepohonan yang tumbuh dengan rindang menghijau.

Siang itu sekitar pukul dua suasana dusun-dusun yang kami lewati terlihat begitu sepi, hanya tampak beberapa orang melakukan aktifitas di luar rumah. Deretan rumah-rumah berukuran sedang di dusun tersebut didominasi bangunan berbentuk rumah panggung menjadi salah satu objek yang menarik untuk dilihat sepanjang perjalanan. Penduduk yang sekarang mendiami daerah ini cukup beragam diantaranya berasal dari Suku Jawa, Bali, Sunda, Banten, Bugis yang merupakan pindahan dari program transmigrasi pemerintah serta penduduk pribumi dari Lampung.

Setelah melewati daerah Lempasing, Mutun dan Kelapa Rapat yang relatif memiliki kontur jalan yang baik, kini setelah tiba di sebuah desa bernama Desa Bawang, kondisi jalanan berubah drastis. Lubang besar yang sebagian terisi tempungan air hujan menjadi seperti sebuah kubangan tepat berada di badan jalan yang hendak dilalui. Butuh kesabaran dan kehati-hatian dalam melewati jalan ini agar tidak terjebak dalam kubangan tersebut. Mengingat bisa saja lubangnya cukup dalam dengan kondisi jalan yang bergelombang tak rata, sebagian besar masih tanah dan berbatu.

Di balik medan yang berat itu setidaknya pemandangan di kedua sisi begitu indah untuk dinikmati. Perjalanan ini melalui sebuah gunung bernama Tanggamus yang merupakan rangkaian pegunungan Bukit Barisan dengan ketinggian 1126 dari permukaan laut sehingga sepanjang perjalanan akan disuguhi panorama keindahan alam perbukitan dan lembah. Beberapa kondisi jalan yang  terjal dan berbatu membuat kami harus turun dari mobil kemudian menapaki jalan pada turunan yang terjal tersebut.

Pemandangan selama perjalanan

Untung saja beberapa hari kemarin cuaca di sekitar daerah ini tidak hujan deras, jika hujan turun tak banyak yang berani melewati jalan ini dikarenakan begitu licin dan curam menukik curam kebawah pada jalan yang memiliki pembatas dengan jurang. Dan yang membuat aku tenang, supir ini begitu mengenal medan secara beliau adalah penduduk di Desa Kiluan Negeri.

Setelah melewati jalanan yang curam tersebut kami melalui sebuah kampung Bali yaitu sebuah perkampungan yang dihuni orang yang berasal dari Bali yang pindah melalui program Transmigrasi penduduk untuk memajukan kehidupan  di suatu daerah yang masih berkembang. Tampak beberapa pura besar dan bangunan yang kental dengan tradisi Bali, hal ini tampak jelas pada arsitektur bangunan dan ornament yang menghiasi bangunan tersebut.

Welcome to Kiluan Negeri, Sebuah tulisan dengan cat biru terlihat pada sebuah tembok yang berdasar warna putih. Akhirnya kami telah tiba di sebuah tempat yang kami ingin tuju dari perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan. Sesampainya di pesisir pantai, kami sejenak melepas lelah di sebuah warung tempat mobil diparkir sebelum menyebrang ke pulau Kelapa tempat kami akan bermalam.

Dengan perahu nelayan yang berkapasitas kurang lebih 9 orang sehingga kami dipecah dalam 2 grup. Karena aku grup ke-2, sambil menunggu perahu tersebut kembali aku menikmati pantai di Teluk Kiluan yang masih relatif bersih. Lokasinya yang begitu terpencil dengan akses transportasi yang kurang baik membuat tempat ini seperti daerah terasing, tapi setidaknya dengan begitu kondisi alam disekitar Teluk Kiluan masih terlihat terjaga dengan baik.

Sesampai di penginapan aku sempatkan berbincang sejenak dengan Pak Dirham penjaga Pulau Kelapa sambil merapihkan barang bawaan dan dimasukan kedalam sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu dan beratap seng. Melihat pantai dengan hamparan pasir yang putih dan air yang jernih,  setelah meletakan barang bawaan kami pun segera meluncur ke tepi pantai untuk menikmati keindahan Kiluan secara lebih dekat.

Penginapan🙂

Dalam beberapa hari terakhir di tempat ini setiap menjelang sore hari cuaca berawan, sehingga tak begitu tampak keindahan matahari terbenam dari pulau ini karena tertutup oleh gumpalan awan putih yang tebal menyelimuti langit di Lampung Selatan. Tapi setidaknya ada banyak hal yang bisa dinikmati di pulau ini. Selain pantai yang bersih untuk snorkeling terdapat susunan batu dan pulau-pulau kecil yang memecah ombak dari Samudera Hindia yang membentang luas di depan mata.

Sayang, mataharinya tertutup awan😦

Matahari telah kembali keperaduannya, terasa begitu kelam tertutup awan kelabu yang menguning senja. Binatang malam mulai muncul dan saling sahut menyahut mendendangkan suara yang harmonis. Aku merasakan ketenangan di tengah suasana alam yang begitu sunyi, damai dan jauh dari kebisingan serta hiruk pikuk kota besar, sambil melepas senja yang akan berganti malam. Sambil menunggu makan malam yang dihidangkan dari hasil tangkapan laut nelayan setempat, kami berdiskusi dengan Pak Dirham mengenai rencana kami untuk melihat lumba-lumba secara lebih dekat.

Dalam satu ruangan kami berkumpul untuk membicarakan kemungkinan resiko yang dapat dihadapi di hari esok, masalah biaya serta faktor keselamatan untuk melihat lumba-lumba.

Gimana cuaca dalam beberapa hari terakhir pak?” Aku bertanya ke Pak Dirham untuk sedikit mendapatkan gambaran mengenai kondisi cuaca terkini di sekitar Teluk Kiluan.

“Untuk melihat lumba-lumba itu tergantung faktor keberuntungan. Gak tentu mas karena tak bisa diprediksi. Minggu lalu ada beberapa orang bule Perancis yang menginap di sini pengen sekali mereka untuk melihat lumba-lumba, tapi sampai di laut ga ada lumba-lumba yang muncul” . Ucap pak Dirham sambil menghela nafas kemudian melanjutkan berbicara.

Mereka sudah beberapa hari di sini tapi cuaca sedang tidak memungkinkan, ada yang sempat nekat mengajak nelayan untuk melaut tetapi sesampai di tengah hujan turun. Cuaca buruk dan ombak begitu besar, ya jadinya harus kembali lagi ke pulau. Tapi kalo memang cuaca bener-bener buruk ya nelayan juga gak mau mengantarkan, yang paling penting selamat mas”. Kali ini giliran ku yang menghela nafas dalam-dalam mendengar penjelasan Pak Dirham.

Inti dari obrolan kami dengan Pak Dirham yaitu beliau pun tak akan memaksakan kondisi untuk melihat lumba-lumba, jika cuaca tidak memungkinkan tentunya lebih baik tidak melaut. Ya walaupun kecewa tentunya bagaimanapun juga faktor keselamatan harus diutamakan, dan kami percaya mereka berniat baik untuk membantu kami dapat melihat lumba-lumba lebih dekat di tempat populasi aslinya ini, dimana Teluk Kiluan merupakan populasi terbesar lumba-lumba di Asia Tenggara.

Dari hasil diskusi akhirnya hanya 9 orang saja yang berani (lebih tepatnya memberanikan diri) untuk melihat lumba-lumba di pagi hari, terhitung jumlah yang pas dikarenakan satu perahu kecil kapasitas maksimal hanya 3 penumpang saja. Kapalnya pun berbeda yaitu dengan ukuran dan mesin yang lebih kecil. Malam ini harus diputuskan karena agar dapat dipersiapkan jumlah perahu yang akan berangkat di pagi hari. Pertimbangan beberapa orang yang tidak ikut serta dikarenakan perahunya begitu kecil serta tidak dilengkapi dengan pelampung, ditambah lagi ombak yang begitu tinggi akhir-akhir ini.

Usai gelapnya malam berganti menjadi Sang Fajar yang mulai menyingsing di pagi hari memancarkan cahaya indahnya dan menyapa dengan senyumnya.  Begitu senang rasanya ketika mendengar kabar hari ini diprediksi cuaca cerah dan kondisi ombak di Samudera Hindia relatif aman untuk pengarungan. Perjalanan jauh yang telah kami tempuh untuk melihat lebih dekat si lumba lumba semakin nyata didepan mata. Ya semoga dipertemukan, seraya berdoa didalam hati.

Perahu jukung bermesin tunggal mulai dipersiapkan untuk mengarungi Samudera Hindia, kami pun bergegas masuk dengan pembagian 3 orang di setiap perahu. Ombak di pagi hari itu masih terasa tinggi tetapi nelayan yang mengantarkan kami menyakinkan kami pengarungan ini aman karena langit tidak sedang berwajah muram seperti beberapa hari sebelumnya.

Pengarungan dimulai, awalnya cukup sport jantung ketika beberapa kali perahu jukung kecil ini menghempas ombak yang cukup tinggi sehingga air pun sedikit masuk kedalam jukung, untung saja aku menggunakan jaket yang tahan air sehingga tidak terlalu basah di tubuh ini. Sekitar pukul 7 pagi kami sudah berada di tengah Samudera Hindia dan sudah cukup jauh dari daratan tapi belum tampak lumba-lumba muncul disini.

Kondisi laut yang cerah🙂

Nelayan tersebut mengatakan ‘Sambil berputar-putar kita tunggu saja beberapa menit lagi, biasanya kisaran jam 7 lumba-lumba akan berada disini untuk mencari makan, kalau mau melihat hiu ada di sebelah sana”. Ucapnya sambil menunjuk ke hamparan laut yang luas di arah yang berbeda. Dari sini juga terlihat cukup jelas Gunung Krakatau yang terlihat gagah ditengah lautan.

Mesin perahu jukung sejenak dimatikan, sambil menunggu beliau pun melempar kail pancingnya ke laut untuk memancing ikan kembung yang banyak berada di daerah ini. Sesekali beliau mengangkat kail pancingnya dan sudah mendapat beberapa ekor ikan. Langsung terbesit dipikiranku, ikan yang semalam kami santap berasal dari tangkapan seperti ini.

“Ikan lumba-lumba itu tidak suka suara yang bising, biasanya menghindar dari perahu besar yang mesinnya terlalu berisik”, Ujarnya. Kemudian beliau melanjutkan percakapan dan menjelaskan kepada kami.

“Ada dua jenis lumba-lumba di sekitar perairan Teluk Kiluan ini, ada Hidung Botol yang badannya besar tapi sedikit pemalu satu lagi jenis lumba-lumba Paruh Panjang yang suka melompat tinggi ke permukaan dengan ukuran tubuh yang kecil kecil”.

Akupun mengangguk, ya itulah alasaannya mengapa pengarungan ini dilakukan dengan perahu jukung yang kecil dan sambil menunggu rombongan lumba-lumba lewat mesin motor sempat dimatikan agar tidak membuat takut lumba-lumba untuk menampakan diri. Awalnya sempat mulai sedikit pesimis karena apa yang kami tunggu tak kunjung tiba.

Akhirnyaaa…  yang aku impikan selama ini terwujud, tidak hanya satu lumba-lumba yang muncul tapi ratusan ekor menampakan dirinya di perairan ini. Lumba-lumba Paruh Panjang melompat dengan tinggi diikuti beberapa ekor dari koloni nya, sedangkan lumba-lumpa Hidung Botol melompat kecil di sekitar perahu kami. Nelayan kami kemudian mengarahkan  laju perahu kearah lumba-lumba tersebut dan lumba-lumba tersebut malahan mendekati kami seolah-olah mengajak kami bermain main. Koloni tersebut bermain begitu dekatnya dengan kami sehingga sesekali aku dapat menyentuh langsung lumba-lumba tersebut ketika melewati ku.

Lumba-lumba !!!

Tak dapat digambarkan betapa senangnya perasaanku saat itu, melihat ratusan lumba-lumba dalam jumlah besar yang terdiri dari beberapa koloni mengajak bercanda dengan kami. Ada puluhan koloni yang mencari ikan di sini dimana umumnya dalam 1 koloni lumba-lumba bisa mencapai ratusan ekor berkumpul dan bersosialisasi dengan kelompoknya.

Sepanjang perjalanan ini tak hanya pengalaman baru yang kami peroleh, tetapi juga pengetahuan yang banyak mengenai lokasi ini yang dideskripsikan dengan baik oleh Pak Dirham dan nelayan setempat. Beliau menceritakan mata pencaharian utama penduduk setempat yaitu menjadi nelayan yang masih menggunakan alat tangkap tradisional seperti pancing dan jala rawai dengan perahu jukung kecil. Sebagian besar menggantungkan pada sumber daya laut yang cukup melimpah di perairan Teluk Kiluan ini untuk bertahan hidup dan sebagian dengan bercocok tanam.

Mereka sadar jika keberadaan lumba-lumba ini dijaga maka masyarakat setempat akan mendapatkan positifnya yaitu dari kedatangan pengunjung yang berwisata di tempat ini. Hal ini sudah dilakukan secara bertahap dengan melakukan sosialisasi untuk tidak memburu lumba-lumba serta menangkap ikan dengan menggunakan bom yang dapat merusak karang dan biota laut disekitarnya. Tentunya dengan terus dijaga kelestariannya maka rantai makanan akan seimbang dan hasil tangkap laut pun tetap melimpah untuk dapat memenuhi kehidupan sehari-hari mereka.

Selain itu untuk memajukan perekonomian dan pemberdayaan masyarakat di sekitar Kiluan Negeri yang umumnya dari program transmigrasi, Pemda setempat harus lebih serius mempromosikan dengan mengadakan event lomba memancing yang rutin serta dilakukan peningkatan infrastruktur seperti akses jalan menuju ke surga tersembunyi ini.

Seorang pemimpi dan penikmat senja yang memiliki ketertarikan dibidang travel photography, berinteraksi dengan orang baru serta menyukai perjalanan darat dalam menikmati setiap tripnya.

Meet him at twiter @shu_travelphoto and read his story at http://www.shu-travelographer.blogspot.com (Shu Travelographer)