Menjejas Bumi di Tenggara Negeri

Me rapelling from the waterfall

Lambusango Forest [Expedition Wallacea Day 7th]

“YOU GOTTA BE KIDDING ME?! WHERE’S THE ROPE CONNECTOR?!” Saya berteriak kepada Rio, yang bergantung pada full body harness tepat diatas saya.

“NO, YOU JUST JUMP!!” Dia balas berteriak.

IT’S TOO HIGH! CRAZY, I WILL BE DEAD IN A SECOND!” Saya berteriak panik, menyadari saya bergantung tepat di ujung tali kernmantel. Sekitar dua puluh meter dibawah sana, tidak ada yang tampak, hanya suara deburan air terjun menghantam permukaan kolam.

NO, JUST JUMP NOW! NOW!

Saya melirik Rio, memastikan bahwa ini bukan bagian dari leluconnya, ada sorot mata serius disana. Sekali lagi saya harus memasrahkan hidup saya pada pengalamannya…

 Saya melemparkan ransel ke bawah, melepaskan tautan carrabiner pada tali dan saya pun melompat…

“Satu, dua,tiga,empat, lima…” napas saya tertahan dan perut saya serasa bergolak..

Saya mencoba menghitung berapa detik keheningan yang saya rasakan sebelum tubuh saya mendarat dan terhempas ke dalam air yang dingin. Saya mencoba menggapai permukaan secepatnya, sayang sepatu yang saya kenakan tidak menolong sama sekali untuk berenang ke atas.

 Saya tenggelam…

Lambusango Forest [Expedition Wallacea Day 5th]

Saya sama sekali tidak membayangkan, saat pertama kali menerima ajakan dari salah seorang senior saya untuk menjadi dokter dalam sebuah ekspedisi eksplorasi, bahwa pekerjaan ini membuat saya harus berkali-kali bertaruh nyawa, terperosok ke jurang dengan lebam dan sayatan rotan memenuhi kulit, berhari-hari menyusuri sungai hingga ujung-ujung jari kaki saya telah mati rasa tergerus dinginnya air, ataupun kehilangan orientasi di dalam gua tanpa sanggup lagi merasakan claustrofobia[1].

Tapi disinilah saya, berbaring diam di atas hammock yang baru saja berhasil saya gantungkan diantara dua batang pohon besar berbalut akar liana. Tempat ternyaman di dataran landai yang kami jadikan camp malam ini. Bahu saya memerih ngilu akibat beban ransel yang semakin lama terasa semakin berat. Bekas-bekas gigitan lintah sepanjang perjalanan masih menyisakan gumpalan darah kering di kedua tungkai, tapi saya terlalu lelah bahkan untuk sekedar menyapunya dengan air, malam ini saya tidak ingin melakukan apa-apa selain tidur lelap, tidak juga bermimpi.

Bermimpi hanya membuang tenaga. Perjalanan saya masih panjang dan tenaga saya sudah hampir habis.

Jason try to enter the hole to the cave –     Cave exploration –                   Inside of the cave near waterfall

Bau-bau City [Expedition Wallacea Day 1st]

Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Pulau Buton – Sulawesi Tenggara. Pulau yang namanya samar teringat dari buku pelajaran geografi, sebagai salah satu pulau penghasil aspal terbesar di Indonesia. Penerbangan  45 menit dari Makassar ke Bau-bau saya tempuh dengan pesawat dari maskapai  Express Air, pesawat kecil berkapasitas dua puluh orang dan masih menggunakan tenaga baling-baling yang terletak di kedua ujung sayapnya. Bau-bau kota yang tentram, rumah-rumah mungil berderet di sepanjang pelabuhan, patung naga tanpa ekor yang menjadi ikon kota ini menjadi daya tarik tersendiri dan jalan-jalan kecil tanpa lampu lalu lintas seolah menunjukkan betapa ramahnya pulau ini terhadap pendatang.

Kemudian saya memandang takjub ke belakang, jauh disana di ketinggian bukit tampak Benteng Keraton Kesultanan Buton kokoh berdiri menopang cakrawala. Benteng kuno berusia ratusan tahun ini dikenal sebagai “The Biggest Fortress in The World”.

Ya, benteng terbesar dan terluas di dunia tersembunyi di pulau ini…

Tapi bukan hanya itu harta terpendam pulau ini, jauh di pedalaman Pulau Buton terdapat Hutan Lambusango, hutan cagar alam unik yang tepat berada di garis Wallacea. Garis imajiner yang dilukiskan oleh naturalis Inggris Alfred Russel Wallace ratusan tahun yang lalu, bahwa di pulau ini saat zaman es masih berlangsung migrasi hewan-hewan purba dari  Asia mencapai pulau ini dan membuat vegetasi serta hewan-hewan di hutan ini menjadi unik.

Perjalanan saya dimulai dengan berkendara selama tiga jam menyusuri jalan berbatu dengan jeep Toyota tua menuju desa Labundo-bundo. Desa yang menjadi basecamp bagi tim ekspedisi kami. Tim kami terdiri dari beberapa orang mahasiswa dan  peneliti dari berbagai belahan dunia serta guide lokal dari tim Lawana Ecotone.

Walau jumlah peserta ekspedisi ini tiap tahunnya mencapai ratusan, kali ini hanya 11 saja yang bergabung dalam tim Exploration Expedition & Advanced Jungle Training.  Saya cukup “beruntung”ditugaskan menjadi dokter di tim ini, ekspedisi kali ini berusaha mengekplorasi wilayah utara dari Hutan Lambusango berharap menemukan vegetasi baru dan hewan langka yang telah bertahun-tahun tidak terlihat wujudnya. Sang sapi liar, Anoa



The Journey

Lambusango Forest, [Expedition Wallacea Day 3rd]

“Husni we’re depart in ten minutes” Rio, pimpinan ekspedisi kami memberi instruksi.

Sekali lagi saya mengecek kotak emergensi yang terletak di kantong atas ransel. Perjalanan ini mengharuskan saya membawa sendiri semua persediaan obat-obatan bagi tim kami. Membuat ransel carrier berkapasitas 75L saya padat berisi keperluan medis dan menyisakan hanya 20% tempat bagi keperluan pribadi.

Ekspedisi eksplorasi juga mengharuskan kami untuk berjalan se efisien mungkin, jumlah porter yang dibatasi dan camp yang berpindah setiap hari membuat kami tidak bisa membawa tenda layaknya perjalanan biasa. Tiap anggota ekspedisi dibekali dengan sebuah hammock atau tempat tidur gantung. Saat malam tiba dan kami menemukan dataran landai untuk berkemah, kami diharuskan untuk mencari pohon dan menggantungkan hammock masing-masing.

Bukan sekali dua kali kami harus terbangun akibat air hujan yang menggenangi hammock atau hewan liar yang berkunjung di tengah malam. Sekali waktu kaki saya pernah dibelit ular piton saat tengah tertidur dan rekan saya dikunjungi musang akibat lalai meninggalkan potongan kodok goreng sisa santap malam kami di bawah hammocknya.

Saat hujan terlalu lebat bagi kami untuk menggantungkan hammock  di pohon, kami harus membuat tempat berteduh dari batang-batang pohon yang diikat dengan serutan akar dan beratapkan daun rotan.  Setelah jadi hammock kami gantungkan di ruas-ruas batang pohon, berharap butiran air hujan dapat ditangkal oleh tiap helai daun rotan yang berjenjang.

Kemudian kami akan melewatkan malam dengan menyeruput teh hangat, nasi bambu dan telur yang kami goreng di atas lembaran daun lebar. Berharap Tuhan sebentar saja memberi lelap dan mengisi malam dengan tanpa apa-apa.

Cukup kekosongan yang menenangkan…


 
Menggoreng telur di atas daun                                                                                Lagi nyiapin nasi bambu

Lambusango Forest, [Expedition Wallacea day 6th]

Saya sudah tidak dapat menghitung, berapa kali kami tersesat!

Peta dan petunjuk kontur dapat dengan mudah kami baca, tapi perbedaan satu atau dua derajat dapat membawa kami jauh melenceng ke dalam hutan. Tidak jarang kami tersesat berjam-jam lamanya sebelum akhirnya mendapat arah yang tepat, beberapa titik telah ditentukan sebagai pemberhetian tapi jarang sekali kami bisa tiba sesuai perkiraan waktu.

Tersesat membuat waktu tempuh untuk tiba di resting point berikutnya memanjang, hal ini yang membuat kami harus sering memotong jalur dengan mendaki ke dataran tinggi atau turun melewati jurang yang curam.

Tapi dalam sebuah perjalanan, saya senang tersesat. Bagi saya tersesat adalah pintu yang terbuka ke berjuta kemungkinan.

Saat tersesat kami akhirnya bisa berjumpa dengan Anoa walau hanya beberapa detik saja, membuktikan bahwa hewan itu masih ada. Tersesat pula lah yang menghantarkan kami hingga ke puncak air terjun ditengah hutan ini. Dari sini, kami dapat melihat lautan dengan bebas, dibawah sana rimbunan pepohonan tampak bagai permadani beledu berwarna hijau. Kabut perlahan mengalir ke sela-sela bebatuan mengubah sore menjadi putih keabu-abuan. Cantik dalam ingatan…

Sore itu di ujung air terjun kami beristirahat, memanjakan tiap sel retina dengan pemandangan yang indah, menertawakan drama satir kehidupan. Mungkin cuma sekali ini kami disini, tempat dimana takdir mempertemukan kami dalam sebuah perjalanan, tapi sungguh sekali tidak mengapa.

Pengalaman yang kami dapat, jauh melampaui ribuan langkah berat yang kami tempuh…

Malam terlalu pekat untuk kami meneruskan perjalanan, maka malam ini kami memutuskan untuk berkemah di puncak air terjun. Menasfirkan peta yang kami punya, disekitar aliran air terjun ini terdapat gua, besok kami akan turun kesana..


 
Me and Michael at resting point                                                                                Lagi sibuk baca peta
Lambusango Forest, [Expedition Wallacea Day 7th]

Meskipun pagi belum menampakkan wujudnya, kami telah selesai mengepak semua perlengkapan, tali kernmantle telah di gelar, ujungnya menyimpul kuat pada sebongkah batu besar. Kami memandang ngarai sungai yang curam dari pinggiran air terjun, airnya memompa dan membentuk turbulensi pada satu sudut…

“That’s the point, we need to go into the turbulence. There’s a tiny hole there, it supposed to be fit for one person. That’s probably the door of the cave”  sambil menyeruput teh hangat, Rio memberikan penjelasan kepada kami.

“You only got one shot, make sure you see the hole before you go down. One mistake you can be hit by the stream”  dia kembali menjelaskan…

Saya memandang ke bawah sekali lagi, arus jeram yang sangat kuat mengalir menuju ke hilir dan tumpah di ujung yang tak tampak. Kabur saya dapat melihat bayangan hitam berbentuk lingkaran di pusat turbulensi, kami harus bisa memasuki lubang kecil itu untuk dapat mencapai gua. Tapi sekali menapak langkah yang salah, dipastikan kami akan terseret arus jeram hingga ke air terjun.

Satu persatu kami turun kesana, menapak ragu di sela bebatuan. Ransel tim kami telah dibiarkan hanyut mengikuti aliran jeram, untuk kemudian di pungut kembali setibanya dibawah, tapi sayang ransel saya tidak. Beban obat-obatan emergency di dalamnya membuat saya harus setia memanggul ransel ini kemana-mana layaknya tempurung yang melekat pada kura-kura.

Saya menahan napas saat turun kebawah, sambil menapak kaku berusaha sekuat tenaga untuk tetap berpegang pada tali. Sekali dua kali saya terpeleset sebelum akhirnya saya bisa melesap masuk ke dalam lubang kecil itu setelah sebelumnya memasukkan ransel saya terlebih dahulu. Dan akhirnya mendarat di dalam gua…

Gua itu tidak terlalu luas, berhiaskan granit-granit besar dan aliran sungai bawah tanah yang menyatu dengan aliran dari jeram diatasnya, keduanya kemudian bersama-sama mengalir keluar melalui celah disalah satu dinding gua. Celah yang cukup lebar bagi kami untuk berjalan dan melihat pemandangan diluar sana.

“We’re gonna rapelling down from those cliff to the bottom of the waterfall, make sure you tighten your harness again.” sekali lagi Rio memberi penjelasan kepada kami, suaranya menggema di dinding-dinding gua…

“Doctor you go first, we expect you to arrive safely before the others..” Rio memberikan instruksi kepada saya untuk menjadi yang pertama turun.

Tangan saya mengepal, denyut jantung saya menjadi lebih cepat. Berusaha menyalahkan dan sekaligus berterima kasih kepada kadar Adrenalin yang semakin lama semakin tinggi dan mengganti ketakutan menjadi rasa penasaran…

Sekitar lima menit bergelantungan dan menapak pelan turun kebawah, saya tiba-tiba tersadar. Saya telah mencapai ujung kernmantell…

Rio menginstruksikan saya untuk melompat.

Saya melirik Rio, memastikan bahwa ini bukan bagian dari leluconnya, ada sorot mata serius disana. Sekali lagi saya harus memasrahkan hidup saya pada pengalamannya…

 Saya melemparkan ransel ke bawah, melepaskan tautan carrabiner pada tali dan saya pun melompat…

“Satu, dua,tiga,empat, lima…” napas saya tertahan dan perut saya serasa bergolak..

Saya mencoba menghitung berapa detik keheningan yang saya rasakan sebelum tubuh saya mendarat dan terhempas ke dalam air yang dingin. Saya mencoba menggapai permukaan secepatnya, sayang sepatu yang saya kenakan tidak menolong sama sekali untuk berenang ke atas.

 Saya tenggelam…

Dengan sisa udara di paru-paru saya berusaha sekuat tenaga untuk mendorong tubuh ke permukaan. Beruntung tubuh saya hanyut menjauh dari pusat jatuhnya air sehingga pelan saya bisa menapak dasar kolam. Saya terbatuk, berusaha memenuhi rongga dada dengan sebanyak-banyaknya udara.

Kemudian sambil bersandar pada batu besar dipinggir sungai, saya tergelak dalam tawa. Salah satu tawa terbebas yang pernah saya ingat sepanjang hidup saya…

Saya berusaha mengecap perasaan kala itu.

 Takut? Sepertinya bukan. Saya bisa saja marah kepada Rio yang tidak memberi tahu sebelumnya ataupun bingung tentang orientasi arah dan lokasi saya berada sekarang.

Tapi ada rasa yang meluap senang ditengah tubuh saya yang mengigil basah.

Saya tersadar, saya mencandu perjalanan ini. Perjalanan yang memberi saya banyak pengalaman dan petualangan, membuktikan pada diri saya bahwa rasa takut bukanlah tantangan sebenarnya sepanjang manusia percaya pada diri mereka dan berani melangkah.

Karena saya percaya hidup ini cuma sekali, maka mengapa musti berdiam diri? Berjalanlah dan mari saling mengisi…

END

My shoes


[1] Ketakutan berlebihan saat berada di ruangan tertutup dalam waktu yang sangat lama.


198391_1942178153089_757281_n.jpg 27 year old Indonesian guy, who struggle everyday to teach African how to spell his name correctly. Husni Mubarak Zainal. Meet him at twitter: @justhityou and read his story at  A Border that Breaks.


Advertisements